Vigan atau Bigan?

Toko Suvenir di Calle Crisologo

Vigan atau Bigan? orang Filipina memang susah membedakan huruf V dengan huruf B bahkan sering tertukar. Tetapi Vigan atau Bigan sama saja. Lungsod ng Vigan adalah nama dalam bahasa Tagalog, sementara Ciudad ti Bigan adalah nama dalam bahasa Ilokano. Kebanyakan warga Manila hanya mengenal Bigan bukannya Vigan. Entah karena memang tahunya Bigan atau memang karena cara melafalkan huruf V dan B yang sering terbalik. Sampai saat ini ibukota propinsi Ilocos Sur yang juga dikenal sebagai “Villa Fernandina” atau “City of Ferdinand” ini adalah satu-satunya kota di Filipina yang masih kental dengan nuansa Spanyol abad 16.

Read the rest of this entry »

Comments (5)

Intramuros dan Quiapo

Manila Cathedral

Katedral Manila

Setelah penerbangan dini hari selama 4 jam dari Cengkareng, pesawat Cebu Airlines mendarat di Bandara Ninoy Acquino Manila pukul 07 pagi. Di Terminal 3 loket-loket imigrasi masih terlihat sepi sehingga antrian pengecekan paspor tak terlalu panjang.

Read the rest of this entry »

Comments (6)

Bandar Melaka

Tan Beng Siew Clock Tower MelakaSekitar pukul 22.00 kami diantar taksi ke Terminal Bus KOMTAR di Penang. Ongkos taksi sudah termasuk kedalam tiket bus seharga 50 ringgit yang sudah kami beli di Love Lane Inn, hostel tempat kami menginap. Dari Terminal bus KOMTAR bus menuju terminal bus Sungai Nibong untuk menaikkan beberapa penumpang. Setelahnya bus meninggalkan pulau di selat Malaka itu melalui Jembatan Pulau Pinang, sebuah jembatan antar pulau terpanjang ke-6 di dunia dengan panjang total 13,5 km. Read the rest of this entry »

Leave a Comment

Mampir di Bangkok

Sanam Luang

Sanam Luang & Grand Palace

Agak susah cari hostel di sekitar Rambutri Road atau Khaosan Road. Beberapa hotel dan hostel yang saya datangi selalu saja penuh. Pukul 1 siang di Bangkok cukup terik, satu jam pula waktu saya habis untuk cari hostel. Saya agak curiga kalau ini bentuk diskriminasi terhadap orang Asia Tenggara. Karena saya pernah mengalami  hal yang sama di Kuala Lumpur saat mencari hostel di Chinatown dan di Bali saat ingin menyewa motor. Beruntungnya masih ada 1 kamar di MIni Guest House yang masih kosong, lokasinya di gang kecil agak kedalam tertutup oleh pedagang-pedagang kaos di Rambutri Road. Walau dengan fasilitas seadanya seperti kamar yang sempit dan agak panas karena hanya pakai kipas angin dan beratap seng serta kamar mandi diluar ditambah bonus gonggongan anjing si pemilik hostel. Pantas saja harganya 300 Baht untuk sebuah kamar hostel yang hanya muat untuk 2 orang. Read the rest of this entry »

Comments (3)

Reruntuhan Ayutthaya

wat yai chaimongkhol ruins

Reruntuhan Wat Yai Chaimongkhol

Jam 07.00 pagi kereta sampai di Ayuthaya. Seorang bapak tua, menawari paket keliling Ayutthaya dengan songthaewnya selama 2 jam. Bahasa Inggrisnya lumayan baik, sampai saat dia bertanya “What language did you speak? I never hear that before.” saat saya dan Shobi ngobrol dalam bahasa Indonesia. Awalnya penawaran dibuka 400 Baht, setelah nego sana-sini dapatlah harga 250 Baht. Nama Ayyuthaya diambil dari Ayodhya, nama kerajaan yang dipimpin oleh Sri Rama, tokoh dalam Ramayana. Pada tahun 1350 Raja Ramathibodi I (Uthong) mendirikan Ayyuthaya sebagai ibu kota kerajaan dan mengalahkan dinasti Kerajaan Sukhothai, yaitu 640 km ke arah utara, pada tahun 1376. Yang menarik dari Ayutthaya adalah reruntuhan bangunan Wat yang tersebar hampir di seluruh kotanya. Walau merupakan kota kecil, untuk menuju beberapa Wat tidak bisa dengan berjalan kaki karena jarak beberapa Wat yang cukup jauh. Read the rest of this entry »

Comments (1)

Kota Tua Chiang Mai

wat bupparam

Wat Bupparam

Menjelajah Chiang Mai lebih seru dengan motor. Sewanya antara 200 Baht sampai 250 Baht sehari. Hari kedua di Chiang Mai saya berkeliling kota Chiang Mai, ke pegunungan Doi Suthep, masuk mall dekat bandara untuk cari makanan halal yang ujungnya tidak ketemu, nyasar karena mencari masjid yang tidak juga ketemu (padahal ada plangnya), sampai terjebak di tengah-tengah konvoi Red Shirts (pendukung demokrasi untuk melawan pemerintahan diktator di Thailand). Seruuu..

Wat Phra That
Lebih dikenal Wat Doi Suthep daripada nama aslinya karena terletak di pegungunan Doi Suthep. Jalan menuju Wat Phra That berliku dan menanjak. Read the rest of this entry »

Leave a Comment

Tour de Chiang Rai

Tha Phae Gate

Tha Phae Gate

Sore hari sekitar jam 4 saya sampai di bandara Chiang Mai. Tanpa bekal yang cukup tentang angkutan umum di Chiang Mai, saya, Shobi, dan seorang backpacker dari China yang baru kami kenal di bandara ini, naik song thaew (angkutan merah khas Thailand) ke kota tua Chiang Mai. Angkot di Chiang Mai tidak punya rute yang pasti jadi harus bertanya lebih dulu sesuai tujuan. Dari bandara Chiang Mai saya minta diantarkan ke Mojito Guest House di sebelah barat kota tua Chiang Mai sementara si backpacker asal China turun di Pasar Chiang Mai. Read the rest of this entry »

Leave a Comment

Older Posts »
%d bloggers like this: