Mampir di Bangkok

Sanam Luang

Sanam Luang & Grand Palace

Agak susah cari hostel di sekitar Rambutri Road atau Khaosan Road. Beberapa hotel dan hostel yang saya datangi selalu saja penuh. Pukul 1 siang di Bangkok cukup terik, satu jam pula waktu saya habis untuk cari hostel. Saya agak curiga kalau ini bentuk diskriminasi terhadap orang Asia Tenggara. Karena saya pernah mengalami  hal yang sama di Kuala Lumpur saat mencari hostel di Chinatown dan di Bali saat ingin menyewa motor. Beruntungnya masih ada 1 kamar di MIni Guest House yang masih kosong, lokasinya di gang kecil agak kedalam tertutup oleh pedagang-pedagang kaos di Rambutri Road. Walau dengan fasilitas seadanya seperti kamar yang sempit dan agak panas karena hanya pakai kipas angin dan beratap seng serta kamar mandi diluar ditambah bonus gonggongan anjing si pemilik hostel. Pantas saja harganya 300 Baht untuk sebuah kamar hostel yang hanya muat untuk 2 orang.

Wat Phra Kaew

Wat Phra Kaew

Grand Palace
Berbekal peta dari gerai-gerai informasi turis yang banyak terdapat di sekitar Khaosan Road/Rambutri Road, beberapa lokasi ikonik di Bangkok bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Setelah batal ke Chatuchak karena lokasinya agak jauh, saya menuju Grand Palace. Untuk masuk ke Istana Raja Thailand ini harus berpakaian sopan dan tertutup. Walaupun ada tempat peminjaman sarung pada pintu masuknya, dengan deposit 1000 Baht, antriannya cukup panjang dan merepotkan. Lebih baik menyiapkan diri dengan pakaian yang layak jika ingin masuk dan tidak mau repot dengan pinjam-meminjam sarung. Jam sudah menunjukkan waktu pukul 14.30, sementara Grand Palace akan tutup pada pukul 16.00, tidak mungkin saya masuk Grand Palace untuk mengelilingi kompleks istana raja ini dalam waktu 1 jam apalagi tiket masuknya cukup mahal, 400 Baht. Jadi saya hanya melihat-lihat dari luar saja.

Wat Phra Cetuphon

Wat Phra Cetuphon

Wat Phra Cetuphon
Lebih dikenal dengan nama Wat Pho atau Temple of Reclining Buddha, kuil paling tua di Bangkok ini lokasinya dibelakang Grand Palace. Selain patung Reclining Buddha berlapis emas 18 karat yang panjangnya 46 meter dan tingginya 15 meter, juga ada stupa-stupa/chedi dari keramik menjulang tinggi di samping wihara Reclining Buddha. Kompleks Wat Pho terlihat biasa dari luar, tetapi cukup luas didalamnya.

Wat Pho

Wat Pho Hall

Beberapa bagian dipisahkan tembok dengan penghubung pintu-pintu lingkaran khas Cina. Di bagian tengah kompleks Wat Phra Cetuphon ada bangunan hall mirip wihara tempat reclining buddha berada yang dikelilingi bendera berbagai negara disisi luarnya. Sementara di bagian belakang wihara, tampak seorang ibu paruh baya bersimpuh memanjatkan doa didepan patung keemasan sang Buddha yang tingginya sekitar 8 meter.

Pray at Wat Pho

Pray at Wat Pho

Sunset di Maha Yak Fortress
Masih tak jauh dari Grand Palace dan Wat Po dan bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Maha Yak merupakan taman terbuka yang berada di tepi sungai Chao Phraya. Dari taman yang menghadap barat ini terlihat Wat Arun di sebrangnya, tak heran jika sore hari ini merupakan tempat favorit untuk melihat siluet Wat Arun dengan latar belakang matahari terbenam.

Wat Arun

Sungai Chao Phraya dan Wat Arun

Khao San Road
Terkenal karena merupakan kawasan backpacker, hingar bingar Khao San Road mulai terasa mejelang malam. Selain banyak penginapan murah ala backpacker, sepanjang jalan ini ramai pedagang kaki lima mulai dari kaos, tas, pernak-pernik khas Thailand hingga penjual makanan khas Thailand seperti Pad Thai, Spring Roll, dan berbagai camilan aneh seperti kalajengking, kecoa, jangkrik, dan belalang goreng. Harganya cukup murah, mulai dari 10 Baht hingga 30 Baht.

Wat Arun

Wat Arun
Hari berikutnya, sekitar jam 8 pagi dari Rambutri Road saya jalan kaki menelusuri Khaosan Road yang masih sepi menuju Sanam Luang (Alun-alun Grand Palace) dan berakhir di dermaga Tha Tian disamping Maha Yak Fortress untuk menyebrang sungai Chao Phraya ke Wat Arun. Ongkos perahu hanya 3 Baht atau kira-kira 1000 Rupiah, tak terlalu mahal untuk menyebrang sungai yang lebarnya kurang lebih 177 meter. Wat Arun atau juga dikenal dengan Kuil Fajar merupakan kuil bergaya Khmer dimana menaranya utamanya berbentuk Phrang dengan tinggi 70 meter berlapis keramik penuh detail warna.

Wat Arun

Wat Arun dengan Prang bergaya Khmer

Dari Wat Arun saya kembali ke hostel untuk check-out, lalu beli beberapa kue mirip serabi dengan taburan kelapa parut dan jagung manis di Khao San Road untuk sarapan pagi sembari menuju bandara. Dari Khaosan Road saya naik taksi berargo menuju bandara Suvarnabhumi. Walau ada Airport Service Bus dengan ongkos 100 Baht tapi waktu menunggunya agak lama, mirip DAMRI di Jakarta. Jadi saya berdua dengan teman memilih taksi berargo dengan ongkos 250 Baht. Bagi saja jika naik ber-4 orang, akan lebih murah dan lebih mudah daripada naik bus atau BTS (MRT).

3 Comments »

  1. Rayung said

    Arsitektur bangunannya unik,
    Fotonya juga bagus-bagus mas

    • dharto said

      Terima kasih Rayung sudah mampir ke blog ini

  2. Wah, kalau gitu, nanti aku mau nungguin sunset ah di taman pinggir sungai itu.😀
    ———————————————————————————-

    sipp…😉
    –dHarto..–

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: