Dari Asakusa Hingga Akihabara

Sensoji Temple

Sensoji Temple, Asakusa

Hari ini cuaca di Tokyo mendung dan agak sedikit gerimis sementara suhu udara terasa sejuk, mungkin berkisar antara 140C-160C. Sedikit melongok keluar jendela dari kamar hostel, terlihat beberapa orang berpayung plastik transparan khas Jepang sedang berjalan menuju stasiun subway Asakusa. Hari ini 31 Oktober 2014.

Setelah sarapan dengan sereal instant yang saya bawa, saya jalan kaki menuju Kuil Sensoji karena jaraknya tak terlalu jauh dari Hostel.

Nakamishe Street

Nakamishe Street

Kuil Sensoji merupakan kuil tertua di Tokyo yang dibangun pada tahun 645 M. Mudah untuk mengenali kuil ini dari lampion raksasa di gerbangnya dan deretan 80 kios pernak-pernik yang berjajar rapi. Beberapa penarik jinrikisha (becak ala Jepang) menawarkan jasanya didepan pintu masuk kepada para wisatawan yang ingin menaiki becak tarik ala Jepang ini. Setelah melewati kios-kios di Nakamishe Street ini, baru akan terlihat jelas bangunan utama Kuil Sensoji dan Pagoda disebelah kirinya.

original-japan-ocha

Mencicipi Ocha di Sensoji

Ueno Park

street-performance-at-ueno-park

Street Performance, Ueno Park

Dari Kuil Sensoji, tujuan saya berikutnya adalah Ueno Park. Daun-daun masih terlihat hijau, beberapa terlihat sudah mulai kuning kecoklatan. Mungkin 2 atau 3 minggu lagi daun akan mulai berubah menjadi jingga kemudian berguguran. Suasana taman masih sepi, mungkin akan terlihat ramai dan meriah saat hanami di musim semi ketika bunga sakura bermekaran. Hanya terlihat beberapa orang lalu lalang dan seorang tuna wisma dengan gerobaknya. Ternyata di Tokyo ada juga tuna wisma, batin saya.

Saya memilih menikmati lagu kopi dangdut dalam versi bahasa Spanyol yang dialunkan oleh 2 orang seniman jalan asal Amerika Latin dengan seruling tradiosionalnya. Bahasa Inggrisnya tidak begitu jelas ketika saya tanya judul asli lagu tersebut di negara asalnya, sehingga agak sulit untuk saya pahami. Saya juga bilang bahwa lagu ini terkenal di Indonesia dengan judul Kopi Dangdut.

Shibuya

shibuya-intersection

Shibuya Intersection

Dengan kartu sakti JRPass, dari stasiun Ueno saya menuju persimpangan jalan paling hits di Tokyo, Shibuya, dimana kita bisa melihat ramainya para pejalan kaki yang menyebrang jalan dengan sangat tertib saat traffic lights di semua sisi jalan berwarna merah.

Selain persimpangan jalan dengan penyebrang jalan teramai di Tokyo, Shibuya juga terkenal karena patung Hachiko yang berada tepat di Exit 5 stasiun Shibuya.

hachiko-statue-shibuya

Hachiko

Tidak sulit mencari makan disekitar stasiun Shibuya, di Food Show stasiun subway banyak sekali pilihan makanan siap saji, mulai dari bento, sushi, sashimi, inari, yakitori, buah-buahan, takoyaki, dll. Mulai dari yang harganya puluhan yen sampai yang puluhan ribu yen.

food-show-at-shibuya-station

Beragam Pilihan Makanan di Food Show

Harajuku

harajuku-street

Harajuku Street

Kita mengenal Harajuku dengan style tabrak larinya. Sebenarnya Harajuku adalah nama sebuah jalan dimana para muda-mudi Tokyo mengekspresikan diri dengan style berpakaian dan style rambut yang asal tabrak sana-sini.

takashima-street-harajuku

Takashima Street

Disebrang Harajuku Street ada Takashima Street. Banyak kios, restoran, distro dll dijalan ini. Salah satunya Daiso, toko yang terkenal karena semua barang yang dijual harganya 100 yen. Di jalan ini selain melihat aktifitas warga, saya juga mencari beberapa suvenir, snack, dan matcha di Daiso. Di ujung Takashima street langsung menghadap stasiun Harajuku dari JR Yamanote Line.

TMG Building

tokyo-from-tmg-building

Night in Tokyo, TMG Building 45th Floor

Lebih indah melihat sebuah kota dari ketinggian di malam hari yang dihiasi gemerlap cahaya lampu kota. Ini yang saya lakukan di Tokyo Metropolitan Government (TMG) Building di daerah Shinjuku, tepatnya di Area Observatory lantai 45. Saya memilih area observatory di ketinggian 202 meter ini, karena aksesnya gratis, tidak perlu booking jauh hari, dan antriannya tidak panjang di malam hari. Walaupun tidak setinggi Tokyo Sky Tree yang area observatory-nya berada di ketinggian 350 meters dan 450 meters dengan tiket masuk paling murah 2.060 yen untuk ketinggian yang paling rendah, namun melihat Tokyo di malam hari dari TMG Building sudah cukup bagi saya.

TMG Building lokasinya agak jauh dari stasiun Shinjuku. Sebenarnya bisa naik subway Oedo Line hanya 1 stasiun dari Shinjuku, keluar di Exit 4 stasiun Tocho-mae dan langsung terlihat pintu masuk TMG Building, tetapi saya memilih berjalan kaki yang membuat kaki lumayan pegal.

Akihabara

20141031_180127Salut untuk orang Jepang, tidak ada kata tidak untuk membantu orang lain, apalagi orang asing. Dengan ramahnya mereka akan berusaha membantu, walau mereka sendiri tidak tahu. Paling tidak, itu yang saya rasakan selama traveling di Jepang. Salah satunya adalah ketika teman saya mencari CD pesanan temannya di Mall Akiba dan Toko CD di daerah Shinjuku dan Akihabara. Walaupun daerah ini bisa dibilang pusat kota, namun warganya tetap sangat ramah kepada orang lain.

Lagi-lagi, karena takut ketinggalan subway terakhir dan juga karena kaki sudah terlalu capek berjalan kaki, saya kembali ke Hostel pukul 22.30 setelah membeli tiket masuk Museum Doraemon di salah satu Lawson Akihabara. つづく… (to be continued)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: