Posts Tagged Pantai

Sore di Banda Aceh

pantai lhok nga

Banyak tempat-tempat menarik di Banda Aceh. Beberapa diantaranya adalah pantai.

Jika ingin menghabiskan waktu di sore hari bersama teman atau keluarga tak ada salahnya ke pantai Lhok Nga. Pantai yang menjadi salah satu favorit ini dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor selama 30 menit dari pertigaan Ulee Lheue kekiri melalui Peukan Bada terus kearah barat mengikuti jalan. Read the rest of this entry »

Advertisements

Comments (4)

Sabang, Pulau Weh!

pemandangan kota sabang

Pagi hari saya sudah siap untuk jalan lagi keliling Sabang. Setelah sarapan buh gurih sebutan nasi uduk di aceh, dengan lauk sambal ikan, kami lanjutkan perjalanan kembali ke Kota Sabang dari Iboih masih dengan menggunakan motor lawas yang kami Sewa. Hari ini adalah hari kedua sekaligus hari terakhir kami di Pulau Weh, karena jam 4 sorenya kami harus kembali ke Banda Aceh dengan kapal cepat Pulo Rondo.

jalan menuju pantai anoi itamBiasanya dalam setiap perjalanan, saya akan mengambil rute lokasi terjauh lebih dulu. Apalagi dihari kedua ini waktu tidak cukup banyak karena harus menyediakan waktu lebih agar tidak ketinggalan kapal sore harinya untuk kembali ke Banda Aceh. Tak sampai satu jam kami sampai di Kota Sabang. Suasana kota tak begitu ramai dengan udara sejuk karena mendung dan kadang gerimis. Kami ambil rute paling jauh yaitu Pantai Anoi Itam, berada di pantai timur pulau Weh. Baca kelanjutannya »

Comments (4)

Kilometer Nol Indonesia

Monumen Kilometer Nol Indonesia

Tugu Kilometer Nol Indonesia

Pulau Weh lebih dikenal sebagai Sabang daripada namanya sendiri. Nama Weh berasal dari kata dalam Bahasa Aceh yang artinya “Pindah”. Sementara nama Sabang berasal dari kata dalam bahasa Arab “Shabag” yang artinya Gunung Meletus. Menurut cerita rakyat yang beredar, dulunya Pulau Weh menyatu dengan daratan Sumatera [atjehcyber]. Jika cuaca sedang bagus, pulau ini dapat terlihat jelas dari pantai Ulee Lheue.

Sekitar jam 8.30 pagi saya dan Budi sudah sampai di pelabuhan ferry Ulee Lheue. Dengan kapal cepat Pulo Rondo, kami akan ke pulau paling barat Indonesia. Tiketnya IDR 60.000 untuk tujuan pelabuhan Balohan (Pulau Weh) dengan waktu tempuh selama 1 jam. Jadwal keberangkatannya hanya sekali setiap hari yaitu pukul 9.30 pagi. Sampai di pelabuhan Balohan di pulau Weh ternyata tidak ada angkutan umum seperti angkutan umum di kota. Yang ada hanya beberapa mobil L-300 lusuh yang difungsikan layaknya travel dengan supir dan kernet yang sudah siaga mencari penumpang yang baru turun dari kapal. Baca kelanjutannya »

Comments (10)

Penang Reclining Buddha

panca rupa as the guardian and protector of the globe

Pagi sekitar jam 8 waktu Penang kami sudah keliling George Town dengan berjalan kaki. Mulai dari kelenteng, kuil hindu, little india, kawasan kota tua, wisma kastam, sampai clan jetties atau perkampungan etnis China Penang yang dibangun diatas air laut.

Clan Jetties ini sejarahnya agak unik memang. Di abad 19 ketika pemerintah kolonial Inggris berkuasa di Penang, banyak immigran dari Cina bagian tenggara yang bekerja di sekitar pelabuhan sebagai buruh dan kuli. Alih-alih membangun rumah diatas daratan, mereka memilih membangun rumah diatas air laut yang lebih murah daripada rumah didaratan. Read the rest of this entry »

Comments (1)

Sendang Biru dan Pulau Sempu

Pantai di Pulau Sempu

Siang yang cerah itu setelah makan siang di salah satu warung makan di dekat Terminal Bis Gadang, Malang, bersama 5 orang teman, perjalanan saya lanjutkan dengan naik angkutan mini bus ke Terminal Turen. Dengan ongkos 3000 rupiah perjalanan dari Gadang ke Turen butuh waktu selama kurang lebih 30 menit. Sepanjang jalan tampak beberapa anak sekolah pulang ada juga yang tengah berangkat ke masjid karena hari itu Jumat, 14 Mei 2010.

Sebelumnya saya sempat tawar menawar dengan pak supir angkot ini untuk mengantar kami ke Sendang Biru, tapi karena biayanya tidak sesuai dengan dan si pak supir tidak bisa menunggu kami terlalu lama, akhirnya kami urungkan untuk menyewa angkutan mini bus ini.

Selat Sendang Biru

Selat antara Sendang Biru dengan Sempu

Read the rest of this entry »

Leave a Comment

Ujung Genteng dan Konservasi Penyu

Ujung Genteng. Tahun baru di pantai lagi. Tahun baru sebelumnya aku ke Parang Tritis dan beberapa pantai di Gunung Kidul. Dengan APV sewaan kami berangkat dari kampus jam 6.30 pagi. Perjalanan yang lumayan melelahkan. Bukan karena jaraknya yang di ujung, tetapi lebih karena jalan menuju ke Ujung Genteng yang berkelok-kelok membuat jarak tempuh dari Jakarta sampai ke Ujung Genteng butuh waktu 6-7 jam.

Hari itu Jumat, kami berhenti sejenak untuk sholat Jumat di sebuah desa kecil di Sukabumi. Ada sebuah masjid besar, untuk ukuran masjid di sebuah desa. Jamaahnya hanya 2 baris. Di belakang masjid ada beberapa bagunan madrasah. Cukup sepi, di depan masjid tampak beberapa rumah seperti tidak berpenghuni. Di jalanan tanah yang cukup dilalui 2 mobil pun tak tampak aktifitas. Hanya beberapa orang yang pergi sholat Jumat.

Air Terjun Cikaso

Jam setengah dua siang, satu jam melewati jalan setapak yang hanya mampu di lewati sebuah mobil dengan pemandangan sawah di kanan kirinya, sampailah kami di Air Terjun Cikaso. Lokasinya terpencil, tak terlihat angkutan umum yang sampai kesini, untungnya kami sewa mobil. Tak ada gapura bertuliskan selamat datang, tak ada tempat pemungutan retribusi kendaraan, tak ada suasana yang menandakan bahwa ini lokasi wisata. Jalanannya pun masih berbatu kali sebesar telur-telur ayam. Read the rest of this entry »

Comments (3)

Green Canyon alias Cukang Taneuh

Dari Pangandaran sewa angkot di hari kedua ini. Tujuan Pantai Batu Karas dan Green Canyon.

Pagi-pagi sekitar jam 8.30 kami udah cacaw dari pangandaran dengan angkot dengan pak supir angkot yang disampingnya ada pak Anang. Dengan kecepatan yang agak lumayan karena jalan yang lurus dan mulus dengan di serbu oleh angin pantai yang masuk lewat jendela angkot yang terbuka, angkot terus jalan ke arah Green Canyon.

Selama satu jam di angkot dengan diselingi candaan, cak-cak-an dan cerita-cerita nggak jelas, akhirnya sampai juga di pantai Batu Karas. Pantainya emang agak jauh dari jalan utama dan lokasinya ada di balik bukit karang. Di sekitar pantai ini berdiri beberapa penginapan yang mungil-mungil dan tepat di pinggir pantai ada menara pengawas pantai.

Yap..turun dari angkot langsung menuju pantai, liat-liat keadaan pantai. Dan ternyata di pantai Batu Karas ini banyak yang belajar surfing, karena emang ombaknya yang sesuai untuk surfing jadi banyak wisatawan yang belajar surfing disini. Pantai ini cukup landai, jadi walaupun agak ke tengah pantai kepala masih bisa ada diatas air.

Read the rest of this entry »

Comments (8)

Older Posts »
%d bloggers like this: