Archive for Story

Kilometer Nol Indonesia

Monumen Kilometer Nol Indonesia

Tugu Kilometer Nol Indonesia

Pulau Weh lebih dikenal sebagai Sabang daripada namanya sendiri. Nama Weh berasal dari kata dalam Bahasa Aceh yang artinya “Pindah”. Sementara nama Sabang berasal dari kata dalam bahasa Arab “Shabag” yang artinya Gunung Meletus. Menurut cerita rakyat yang beredar, dulunya Pulau Weh menyatu dengan daratan Sumatera [atjehcyber]. Jika cuaca sedang bagus, pulau ini dapat terlihat jelas dari pantai Ulee Lheue.

Sekitar jam 8.30 pagi saya dan Budi sudah sampai di pelabuhan ferry Ulee Lheue. Dengan kapal cepat Pulo Rondo, kami akan ke pulau paling barat Indonesia. Tiketnya IDR 60.000 untuk tujuan pelabuhan Balohan (Pulau Weh) dengan waktu tempuh selama 1 jam. Jadwal keberangkatannya hanya sekali setiap hari yaitu pukul 9.30 pagi. Sampai di pelabuhan Balohan di pulau Weh ternyata tidak ada angkutan umum seperti angkutan umum di kota. Yang ada hanya beberapa mobil L-300 lusuh yang difungsikan layaknya travel dengan supir dan kernet yang sudah siaga mencari penumpang yang baru turun dari kapal. Baca kelanjutannya »

Comments (10)

Penang Reclining Buddha

panca rupa as the guardian and protector of the globe

Pagi sekitar jam 8 waktu Penang kami sudah keliling George Town dengan berjalan kaki. Mulai dari kelenteng, kuil hindu, little india, kawasan kota tua, wisma kastam, sampai clan jetties atau perkampungan etnis China Penang yang dibangun diatas air laut.

Clan Jetties ini sejarahnya agak unik memang. Di abad 19 ketika pemerintah kolonial Inggris berkuasa di Penang, banyak immigran dari Cina bagian tenggara yang bekerja di sekitar pelabuhan sebagai buruh dan kuli. Alih-alih membangun rumah diatas daratan, mereka memilih membangun rumah diatas air laut yang lebih murah daripada rumah didaratan. Read the rest of this entry »

Comments (1)

Harmoni Pulau Penang

Hainan Temple Penang

Penang, seharusnya diucapkan Pineng dalam bahasa Inggris. Sementara dalam bahasa Melayu disebut Pinang atau Pulau Pinang. Dari Kuala Lumpur saya naik kereta Senandung Mutiara malam dengan sleeper berth supaya bisa tidur. Kereta berangkat dari KL Sentral jam 22.30 dan pagi hari sekitar pukul 06.00 waktu setempat kereta sudah sampai di stasiun Butterworth, pemberhentian terakhir kereta ini. Harga tiket kereta ke Penang sama dengan harga tiket kereta ke Singapura, 44 ringgit, lama perjalanannya hampir sama pula 7 – 8 jam.

Penang adalah salah satu negeri bagian yang terpisah dari semenanjung Malaya, untuk sampai di Penang harus menggunakan ferry dari Butterworth seharga 1,6 ringgit. Tak susah untuk mencapai pelabuhan dari stasiun Butterworth, karena dekat jadi bisa dengan berjalan kaki menuju jembatan penyebrangan dan sampailah di loket ferry. Read the rest of this entry »

Comments (6)

Semarang Dalam Sehari

Kelenteng Sam Poo Kong

Sekitar jam 8.00 pagi saya turun di depan Stekom Baru sebelum pintu tol Krapyak karena bus Giri Indah yang saya naiki akan masuk tol Semarang kemudian lanjut kearah Solo. Saya pikir akan diturunkan ditengah kota. Untungnya saya turun tepat disamping halte Bus Rapid Trans nya Semarang.

Tugu Muda Semarang

Saya memutuskan naik Semarang Bus Rapid Transit, karena setelah tanya ke mbak petugas karcisnya bus ini lewat Simpang Lima dan Tugu Muda (Lawang Sewu). Di dalam bus tampak lengang, hanya beberapa anak berseragam SMA yang tampaknya mau berangkat sekolah. Mungkin karena hari itu Sabtu pekan ketiga diawal tahun 2012, dimana banyak kantor yang libur. Dengan karcis IDR 3.500, tak sampai 20 menit saya sampai di halte terdekat dari Tugu Muda, kira-kira 500 meter.

Read the rest of this entry »

Comments (6)

Jalan-jalan ke Banda Aceh

Masjid Raya Baiturrahman

Jumat terakhir di bulan November 2010. Tiket pesawat sudah saya pesan beberapa bulan sebelum keberangkatan, yang sudah pasti harganya lebih murah. Kali ini saya akan menghadiri undangan dari teman yang akan melangsungkan pernikahan di Banda Aceh. Pengantin laki-laki dan pengantin perempuan ini dua-duanya teman kuliah saya. Pengantin perempuan asal Aceh sementara pengantin laki-laki dari Jakarta. Berangkat dari Jakarta dengan 2 orang teman lagi, Budi dan Nanda. Sekali mendayung, dua, tiga pulau terlampaui, jadi  sambil menghadiri undangan, sekalian jalan-jalan pula.

Read the rest of this entry »

Comments (5)

Mau Buat Paspor? Antri !

Passport Republic of IndonesiaIni kali kedua saya membuat paspor. Buat lagi bukan karena habis halaman, tapi karena habis masa berlaku. Itupun capnya hanya dari 2 negara, Indonesia dan Filipina. Dulu waktu membuat paspor yang pertama saya tinggal datang ke kantor imigrasi, duduk, diajak ketemu pejabat kantor imigrasi, ngobrol sebentar, kemudian nunggu antrian untuk foto dan ambil sidik jari. Selesai dalam 1 hari, karena ada yang bantu mengurus. Untuk paspor yang kedua ini saya coba untuk mengurus sendiri. Mau merasakan pengalamannya dan tentu untuk menghemat pengeluaran.

Hari pertama datang ke kantor imigrasi sudah agak siang, sekitar jam 9. Ternyata jam segitu nomor antrian sudah habis. Lalu tanya petugas imigrasi, saya sudah daftar online, sudah upload berkas dan segala macemnya, kemudian saya tunjukkan hasil print nomor berkas yang sudah diupload. Eh, petugasnya bilang “disini prosedurnya masih sama seperti yang dulu mas, ngantri, pake berkas asli”. Duh, capek deh! udah ada sistem online yang memudahkan, tapi masih aja pakai sistem manual. Padahal saya baca di internet kalau kantor imigrasi Jakarta Selatan sistemnya sudah online. Tangerang..oh..Tangerang. Daripada nggak ada hasil akhirnya cuma beli formulir, map berlogo kantor imigrasi kelas 1 Tangerang, dan sampul paspor (optional). Read the rest of this entry »

Comments (11)

Masjid Agung Natuna

Masjid Agung Natuna

Masjid Agung Natuna

Jika datang ke Natuna sempatkan untuk berkunjung ke masjid Agung Natuna. Masjid ini letaknya tak jauh dari pusat kota Ranai. Pemandangan Gunung Ranai menjadi latar belakang Masjid Agung Natuna ini. Lokasi masjid ini agak kedalam, sedikit jauh dari jalan utama menuju Ranai. Masjid ini terlihat megah sekali, apalagi saat dilihat dari dekat. Bukan cuma Jalan menuju masjid natunadilihat dari dekat, masjid ini bisa dilihat dari dalam pesawat yang akan mendarat di Landasan Udara Ranai.

Karena tidak ada angkutan umum di Ranai, untuk mengunjungi Masjid Agung Natuna kita bisa menyewa mobil atau motor yang banyak sekali disewakan oleh penduduk setempat. Tidak sulit untuk menuju masjid ini, dari pusat kota Ranai kita harus menuju ke arah utara kurang lebih 2 kilometer. Letaknya di kaki Gunung Ranai. Dari jalan utama kita harus masuk lagi kedalam kurang lebih 1 kilometer tapi dari jalan ini sudah tampak bangunan masjid yang berkubah hijau dengan menara-menara disekelilingnya. Read the rest of this entry »

Comments (2)

Lingga si Bunda Tanah Melayu

Mount Daik

Gunung Daik, Pulau Lingga

Jika ke Pulau Lingga di Kepulauan Riau, tak lengkap rasanya jika tak menyempatkan diri untuk berkunjung ke Daik. Di kota kecil nan ramah ini kita bisa menilik sejarah perkembangan budaya melayu yang saat ini menyebar hampir ke sebagian besar wilayah Indonesia bagian barat hingga Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam.

Untuk sampai ke Daik ada beberapa alternatif transportasi. Jika melalui udara, kita dapat  menggunakan penerbangan Riau Airlines dari Tanjung Pinang ke Dabo di Pulau Singkep, kemudian dilanjutkan dengan menggunakan kapal menuju Tanjung Buton di Daik. Tapi jika melalui laut, kita dapat menggunakan kapal motor MV Marine Hawk atau MV Arena dari Pelabuhan Sri Bintan Pura di Tanjung Pinang langsung ke Tanjung Buton di Daik. Untuk perjalanan laut sendiri memakan waktu kurang lebih 5 jam.

baca kelanjutannya..

Comments (1)

Menguji Adrenalin di Universal Studio

Globe Universal Studio SingaporeMari menjelajah Universal! Ini kali keduanya aku ‘mampir’ di Singapura, 2006 lalu untuk pertama kalinya ‘mampir’  di negeri Merlion ini. Benar-benar hanya mampir untuk transit di Changi Airport sebelum akhirnya lanjut ke Ninoy Aquino di Manila. Kali ini (28/04/11), aku berangkat dari Kuala Lumpur pukul 22.30 dengan kereta api Senandung Sutera, sampai di stasiun Tanjung Pagar Singapura pukul 8 pagi. Berbekal beberapa pertanyaan pada beberapa orang di halte bis Tanjung Pagar, perjalanan kami lanjutkan ke Chinatown dengan bis nomor 80. Ya, aku tidak sendiri, tapi dengan 2 orang teman. Tujuan hari pertama ini adalah Chinatown ini untuk check-in hostel di Backpackers Inn. Agak sedikit tersasar memang, namun masih tidak jauh dari Backpackers Inn yang berada di Mosque Street. Dipintu hostel yang bangunannya terkesan seperti ruko berlantai 3 dengan arsitektur bergaya China ini, terlihat beberapa baris tulisan yang menginformasikan kamar dan tempat tidur yang masih tersedia. MadagascarNamun setelah bertemu dengan Nica, entah si pemilik hostel atau hanya pegawai, kami urung mengambil private room yang hanya tersisa 1 kamar dikarenakan masih jam 10 pagi dan kami belum bisa check-in,  sementara jam check-in adalah jam 1 siang. Sehingga kami belum bisa menggunakan kamar untuk sekedar membersihkan diri.

Bersama 2 orang teman lainnya, kuputuskan untuk sarapan dulu di Mc.D yang telah kami lewati sebelum ke hostel. Hampir semua restoran fast food baik di Malaysia maupun Singapura, menu pagi, siang, dan sore berbeda. Pagi dan malam tak ada nasi, yang ada hanya roti, bubur kentang, dan telur mata sapi. Tak ada ayam, yang ada hanya nugget, ham, dan telur dadar. Karena tak ada pilihan lain, terpaksalah kupilih menu yang ada. Beef burger dengan telur dadar berlapis double cheese dan segelas teh panas, bukan teh hangat! Semuanya SGD 6,4 harga paling murah. Rasanya biaya hidup di Singapura 3 kali lipat mahal dari biaya hidup di Jakarta. Read the rest of this entry »

Comments (1)

Chinatown dan Bugis

Chinatown in SingaporeChinatown

Ke Singapura rasanya tak boleh melewatkan kawasan bersejarah yang satu ini, Chinatown atau Pecinan kalau di Indonesia. Tak sulit untuk menuju Chinatown dari stasiun Tanjong Pagar, sekali naik bis kota nomor 80 dengan ongkos SGD 1 atau jika dari Bandara Changi bisa naik MRT East West Line  turun di Outram Park kemudian lanjut dengan MRT North East Line ke Chinatown.

Chinatown ini dulunya adalah salah satu lokasi tempat tinggal para buruh kuli yang dipekerjakan untuk membangun Singapura. Para buruh kuli ini didatangkan dari China bagian selatan dengan menggunakan kapal yang penuh sesak, sesampainya di Singapura para buruh kuli ini kemudian di lelang untuk dijual kepada penawar dengan harga tertinggi. Sementara buruh yang tidak diminati akan tinggal di lingkungan-lingkungan untuk khusus buruh kuli. Mereka berbagi alas tidur dari kayu dan berdesak-desakan. Kekurangan air bersih, penyakit, kekerasan, dan kecanduan opium menjadi hal yang lumrah disini. Pagoda Street atau yang sekarang lebih dikenal dengan kawasan Chinatown ini adalah salah satu dari 12 lingkungan tempat tinggal para buruh kuli kala itu. Saat ini kawasan Chinatown ini ditetapkan menjadi salah satu lokasi warisan bersejarah di Singapura.

Read the rest of this entry »

Comments (2)

« Newer Posts · Older Posts »
%d bloggers like this: