Penang Reclining Buddha

panca rupa as the guardian and protector of the globe

Pagi sekitar jam 8 waktu Penang kami sudah keliling George Town dengan berjalan kaki. Mulai dari kelenteng, kuil hindu, little india, kawasan kota tua, wisma kastam, sampai clan jetties atau perkampungan etnis China Penang yang dibangun diatas air laut.

Clan Jetties ini sejarahnya agak unik memang. Di abad 19 ketika pemerintah kolonial Inggris berkuasa di Penang, banyak immigran dari Cina bagian tenggara yang bekerja di sekitar pelabuhan sebagai buruh dan kuli. Alih-alih membangun rumah diatas daratan, mereka memilih membangun rumah diatas air laut yang lebih murah daripada rumah didaratan.

chew jetty penang   

Keluar dari George Town, dengan Bus Rapid Penang kami ke  pinggiran George Town, daerah Pulau Tikus. Didaerah ini ada 2 buah monastery, Dhammikarama Burmese Temple dan Wat Chaiwattanaram dari Thailand disebrangnya. Di Burmese Temple ini ada patung Buddha keemasan setinggi 20 meter, dibelakangnya ada 2 baris berbagai patung marmer Buddha dari berbagai negara di Asia termasuk Indonesia. Bangunan wat di Burmese Temple ini hampir mirip dengan wat di Thailand dengan dominasi warna emas disetiap bangunannya dan stupa berwarna emas.

buddha statue at burmese temple   thai guardian statue

Disamping vihara utama ini, ada tempat persembahyangan yang disepanjang koridornya ada lukisan kisah sang Buddha dari lahir hingga mencapai pencerahan. Sementara di pelataran monastery tampak beberapa patung yang menyimbolkan sesuatu dengan maknanya masing-masing. Salah satunya adalah Panca-Rupa. Pelindung dan Penjaga dunia. Unik karena mengkombinasikan 5 bagian hewan seperti belalai dan gading gajah, empat kaki berkuku dan dua telinga kuda, kaki dan wajah singa, tanduk rusa, tubuh dan ekor ikan, serta dua sayap Garuda.

 

Gapura Wat Chayamangkalaram tampak berukir khas dengan aksara Thailand. Dari kejauhan ada Stupa besar berwarna emas menjulang dibalik Wat, sementara didepan pintu Wat ada beberapa patung naga dan patung raksasa penjaga pintu memegang gada. Sementara didalam Wat ada patung Buddha sepanjang 33 meter dengan posisi berbaring bersandar diatas tangan kanannya menghadap utara. Posisi ini dipercaya umat Buddha menyimbolkan  Mahaparinirvana, pencerahan atau mencapai Nirwana.

Beberapa lilin teratai dinyalakan oleh umat yang bersembahyang. Patung -patung Buddha dengan posisi bersila dan berdiri ada didekat kaki sang Buddha yang tidur, sementara dibelakang dindingnya ada deretan kotak berisi guci abu jenazah lengkap dengan foto dan informasi sang pemilik abu tersebut.

reclining buddha in penang

Menurut sejarahnya Burmese Temple dibangun pada 1 Agustus 1803 yang dikenal juga sebagai “Nandy Moloh Burmese Temple”. Sementara Wat Chaiwattanaram dibangun oleh Seorang Biksu dari Thailand pada tahun 1854 diatas 5 hektar lahan yang dihibahkan Ratu Victoria dari Inggris.

Tak sulit mencari suvenir dari kedua vihara ini, karena didepan vihara berderet penjual suvenir seperti patung Buddha, lukisan, aksamala (tasbih), dan suvenir lainnya yang masih berhubungan dengan vihara dan Buddha.

Keliling didaerah ini kami berjalan kaki mencari makan siang, lagi-lagi ketemunya masakan Padang. Tapi jangan harap masakan Padang di Malaysia seenak di Indonesia, jauhkan ekspektasi itu. Tujuan berikutnya ke Pantai Batu Feringgih, tapi sebelumnya ke Masjid Lama Jamek Pulau Pinang yang dibangun pada tahun 1884 untuk istirahat.

masjid lama jamek pulau pinang

Yang unik dari setiap perjalan saya ke Malaysia, setiap kali mampir ke Masjid ada saja jamaah yang dengan senang hati mengajak ngobrol dan memberikan nasihatnya. Sebelumnya di Masjid Jamek Kuala Lumpur dekat Lapangan Merdeka saya ngobrol dengan seorang pengurus masjid yang juga sering menghadiri pengajian di Kebon Jeruk, sampai beliau memberikan sebutan Mustafa (yang terpilih) untuk saya, “yang terpilih” untuk mengobrol denganya mungkin. Kali ini di Masjid Lama Jamek Pulau Pinang saya ngobrol dengan seorang jamaah yang juga supir taksi dengan beberapa nasihatnya.

Dari kawasan Lorong Burma kami lanjut ke Pantai Batu Feringgih dengan Bus Rapid Penang. Pantai Batu Feringgih seperti umunya pantai berpasir putih, tapi diujung pantai ini ada batu-batu granit raksasa seperti yang ada di Belitung atau di Natuna. Mungkin dari sinilah asal nama Batu Feringgih. Menurut si bapak supir taksi, kalau musim liburan banyak turis dari Saudi Arabia yang datang ke Pantai ini. Ternyata benar karena di pantai ini banyak terlihat turis timur tengah dengan burqa yang serba hitam menutup dari ujung kepala hingga ujung kaki, yang terlihat hanya mata saja. Tapi sesekali ada juga yang membukanya saat naik paralayang, banana boat atau speed boat. Dari Pantai Batu Feringgih kami kembali Love Lane Inn di pusat George Town untuk siap-siap perjalan ke Melaka.

1 Comment »

  1. Ahh.. aku pas ke 2 wat itu pas udah sore dan udah tutup. Jadi gak bisa masuk deh..

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: