Harmoni Pulau Penang

Hainan Temple Penang

Penang, seharusnya diucapkan Pineng dalam bahasa Inggris. Sementara dalam bahasa Melayu disebut Pinang atau Pulau Pinang. Dari Kuala Lumpur saya naik kereta Senandung Mutiara malam dengan sleeper berth supaya bisa tidur. Kereta berangkat dari KL Sentral jam 22.30 dan pagi hari sekitar pukul 06.00 waktu setempat kereta sudah sampai di stasiun Butterworth, pemberhentian terakhir kereta ini. Harga tiket kereta ke Penang sama dengan harga tiket kereta ke Singapura, 44 ringgit, lama perjalanannya hampir sama pula 7 – 8 jam.

Penang adalah salah satu negeri bagian yang terpisah dari semenanjung Malaya, untuk sampai di Penang harus menggunakan ferry dari Butterworth seharga 1,6 ringgit. Tak susah untuk mencapai pelabuhan dari stasiun Butterworth, karena dekat jadi bisa dengan berjalan kaki menuju jembatan penyebrangan dan sampailah di loket ferry. Tak sampai 30 menit penyebrangan dengan ferry, sampailah di jetty George Town. Jika menggunakan bus dapat akan melalui Penang Bridge yang menghubungkan pulau Penang dengan semenanjung Malaya. Dengan panjang 13,5 km Penang Bridge berada diurutan 6 jembatan terpanjang di dunia.

Wisma Kastam Penang   Queen Victoria Clock Tower

George Town merupakan situs kota tua bersejarah warisan dunia yang ditetapkan oleh UNESCO pada 7 Juli 2008. Berbekal peta dari internet, saya dan beberapa teman jalan kaki ke arah barat menuju benteng peninggalan pemerintah kolonial Inggris, Fort Cornwallis. Pagi-pagi sudah jalan kaki melihat aktifitas George Town yang belum begitu sibuk. Ternyata didekat Fort Cornwallis ada Tourist Information Center, beruntunglah saya karena bisa tanya-tanya tentang Penang dan mengambil beberapa leaflet sebagai guide.

Fort Cornwallis

Masuk ke Fort Cornwallis tiketnya 2 ringgit, pengeluaran pertama yang agaknya lumayan dipagi hari, karena belum sarapan dan agaknya kondisi benteng tua ini kurang terawat. Agak sedikit kurang puas dengan harga tersebut. Dibeberapa ruangan ditempatkan foto-foto sejarah perjalanan Fort Cornwallis dari masa ke masa. Di salah satu sudut benteng ada chapel dan di sudut benteng lainnya ada meriam peninggalan VOC yang menghadap ke laut. Tak terlalu lama saya menghabiskan waktu di Fort Corwallis, karena kami harus segera mencari penginapan untuk istirahat dan menaruh beberapa barang sebelum keliling Penang.

Mahamariamman Hindu TempleDi sepanjang Love Lane banyak terdapat penginapan kelas backpacker. Untuk membandingkan harga kami masuk ke beberapa penginapan, dapatlah di Love Lane Inn. Seorang perempuan China paruh baya asal Singapura dengan logat singlish menawarkan harga 65 ringgit untuk private room, pas untuk kami berempat. Kebetulan juga di penginapan ini ada salah satu pegawainya orang Surabaya, bu Yanti, sudah tinggal dan bekerja di Penang hampir selama 17 tahun, jadi saya lebih gampang untuk tanya-tanya tentang Penang. Menurut bu Yanti, pemilik Love Lane Inn yang seorang Chinese Muslim ini beristrikan orang Surabaya.

Love Lane bersebelahan dengan Jl. Masjid Kapitan Keling atau juga dikenal Jalan Harmoni, karena di jalan ini ada St. George Church, Cathedral of The Assumption, Goddess of Mercy Chinese Temple, Mahamariamman Hindu Temple, dan Kapitan Keling Mosque yang jaraknya berdekatan dimana menyimbolkan harmoni kerukunan antar umat beragama. Hari itu Jumat, saya dan 2 orang teman lain sholat Jumat di Masjid Kapitan Keling, sementara 1 teman lagi menunggu di luar. Dengan bangga kami berbatik ria di Masjid India ini. Tapi yang saya bingung adalah khotbahnya yang menggunakan bahasa Tamil. Pusing jadinya, karena yang terdengar hanya deretan huruf R disetiap kalimatnya.

St. George Church Penang    Cathedral of the Assumption

Kapitan Keling Mosque Penang    Chinese Temple

Dari Masjid Kapitan Keling kami jalan kaki menuju terminal bis KOMTAR daripada harus menunggu hop on free bus Rapid Penang yang gratis tapi lama lewatnya. Berpanas-panas ria jalan kaki kurang lebih 1,5 km. Ternyata banyak juga turis lain yang jalan kaki. Siang ini tujuannya adalah Bukit Bendera dikenal juga sebagai Penang Hill, puncak tertinggi di Penang. Dari KOMTAR ada beberapa bus yang ke arah Penang Hill, tapi yang persis berhenti di depan pintu masuk Penang Hill adalah Bus Rapid Penang nomor 204. Ini juga kami tahu dari seorang kakek India yang baru mau pulang dari sholat Jumat di Masjid Kapitan Keling, dengan ramahnya dia memberitahu dan mengajak ngobrol tanya-tanya tentang Indonesia.

Penang Hill Cable TrainKetinggian bukit Penang 830 mdpl dan untuk sampai ke atas bukit disediakan kereta kabel listrik seharga 30 ringgit untuk return trip. Cukup mahal memang, sampai-sampai ada 2 orang turis eropa yang batal naik karena tahu harganya mahal. Tapi tentu saja harga ini tak berlaku untuk warga lokal, karena dengan menunjukkan KTP Malaysia mereka hanya perlu membayar hanya 8 ringgit return trip. Dengan kereta baru buatan swiss ini hanya butuh waktu sekitar 5 menit untuk sampai diketinggian 735 mdpl, menggantikan 30 menit perjalanan jika menggunakan kereta lama yang dipakai sejak dibukanya jalur kereta ini pada tahun 1923. Sebenarnya di puncak Bukit Bendera ini tak ada yang begitu istimewa menurut saya, karena hanya merupakan titik tertinggi dimana bisa melihat kota George Town, Jembatan Pulau Pinang, dan Daratan Semenanjung Melayu. Sementara itu dipuncak bukit ini ada juga Kuil Hindu Thirumurugan dan Masjid Penang Hill.

Penang Hill Mosque   Sri Aruloli Thirumurugan Temple Penang Hill

Sorenya setelah turun dari Penang Hill, lajut jalan kaki ke Kek Lok Si Temple yang lokasinya di kaki Penang Hill, tapi agak jauh juga kalau jalan kaki tapi kami tetap memutuskan berjalan kaki. Tapi telat sepertinya, karena sudah jam 6 sore saat baru sampai ditangga,  Kuil sudah ditutup. Walhasil kami kembali ke George Town dengan Bus Rapid Penang, turun di Padang Kota Lama (alun-alun) dekat Fort Cornwallis untuk menikmati kemerlap lampuCity Hall danTown Hall dimalam hari. Dari sini kami lanjutkan jalan kaki mencari Nasi Kandar, kuliner asli Penang, yang ada di depan Masjid Kapitan Keling.

6 Comments »

  1. Masjid warna -warni.
    salam

  2. beli tiketnya kereta dari SG ke KL dimana? Harganya berapa? Ada kan tiap hari?

  3. Penang Hill overprice! Mahal dan sampe atas cuma gitu aja.. Gak mau lagi deh. Hehe..

    • dharto said

      Mahal? Banget! Cukup sekali aja naik kereta kabel itu. Kalau kesana lagi pengen coba yg jalur hiking aja.

  4. Nan Da said

    yah moga dilain kesempatan bisa berkunjung pe penang jg…

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: