Jalan Kaki di Gedong Songo

Candi 3 Gedong Songo

Jam 7 pagi saya sudah siap melanjutkan trip Semarang saya. Nunggu bus kota disebrang SPBU Masjid Agung tempat saya numpang tidur. Pagi itu saya bareng dengan pasangan ibu bapak usianya sekitar 60 tahunan yang mau mengunjungi anak dan cucunya di Magelang. Sepertinya mereka lebih cocok saya panggil budhe dan pakdhe. Dari sebrang SPBU ini saya harus ke terminal Terboyo yang letaknya persis di samping Rumah Sakit Islam Universitas Sultan Agung. Kemudian lanjut dengan bus Sumber Waras jurusan Jogja. Dengan ongkos IDR 6.000, Semarang – Ambarawa ditempuh 1,5 jam karena bus banyak berhenti mengangkut penumpang, walhasil berdiri dan desak-desakan di dalam bus. Jam 9.30 saya turun di pertigaan monumen Palagan Ambarawa, tak jauh dari pasar Ambarawa. Tujuan saya kali ini Museum Kereta Api Ambarawa dan Candi Gedong Songo.

Benda-benda di Museum Kereta ApiDari monumen palagan Ambarawa tinggal jalan kaki 800 meter ke museum kereta api. Sampai museum ternyata ada spanduk bahwa museum tutup karena sedang direnovasi. Menurut pak satpam renovasi dari Juli 2011 sampai Mei 2012 dan karena penutupan ini kereta uap berhenti beroperasi. Padahal tujuan utama saya ke museum kereta ini ingin merasakan naik kereta uap keliling Ambarawa dan menikmati Rawa Pening. Untungnya museum tidak benar-benar ditutup, karena saya masih bisa melihat beberapa barang-barang peninggalan maskapai kereta api Hindia Belanda. Seperti mesin cetak karcis, mesin hitung, telepon ongkel, stempel, peluit, timbangan, dan masih banyak lagi.

Dari museum kereta api Ambarawa saya lanjutkan ke Candi Gedong Songo. Dengan angkot kuning biru dari depan Pasar Lanang dekat museum kereta, saya menuju Polin dekat pasar Ambarawa. Lalu lanjut lagi dengan angkot kol suzuki ke arah desa Candi di Bandungan sekitar 40 menit dan turun di SPBU pertigaan Candi. Dari sini saya lebih memilih naik ojek dengan ongkos IDR 7.000, daripada harus jalan kaki 3 km dengan jalan menanjak yang kalau dikira-kira kemiringannya sekitar 40 derajat.

Lokomotif Uap

Kawasan Candi Gedong Songo berada di lereng Gunung Ungaran dengan ketinggian sekitar 1.300 mdpl sehingga berhawa sejuk dengan suhu sekitar 180C – 200C. Dari sini pula terlihat jelas kota Ambarawa dan Rawa Pening dengan latar Gunung Merbabu, Gunung Merapi, bukit Telomoyo, Gunung Sindoro, serta Gunung Sumbing. Tiket masuk candi IDR 6.000. Untuk berkeliling Candi Gedong Songo perlu stamina yang baik dan tenaga ekstra karena Candi Gedong Songo yang terdiri dari 9 kompleks candi ini lokasinya saling berjauhan bahkan ada beberapa yang dipisahkan oleh puncak dan lembah. Namun dari 9 kompleks, yang ada bangunan candinya hanya 7 kompleks, 2 lainnya belum selesai dipugar. Untuk mengelilingi semuanya butuh waktu 2,5 jam berjalan kaki dengan jalan setapak yang kebanyakan menanjak. Alternatif lain bisa menunggang kuda yang banyak ditawarkan di pintu masuk. Tapi jangan khawatir, dengan berjalan kaki pun tak akan terasa melelahkan karena udara yang dingin ditambah dengan pemandangan alam Gedong Songo yang indah menyejukkan mata.

Candi Gedong SongoCandi yang merupakan peninggalan budaya Hindu dari zaman Wangsa Syailendra abad ke-9 (tahun 927 masehi) ini memiliki persamaan dengan kompleks Candi Dieng di Wonosobo. Terletak pada ketinggian sekitar 1.300 mdpl ditemukan tahun 1740 oleh Loten. Pada tahun 1804, Raffles mencatat kompleks tersebut dengan nama Gedong Pitoe karena hanya ditemukan tujuh kelompok bangunan. Kemudian pada tahun 1925, Van Braam membuat publikasi. Pada tahun 1865 Friederich dan Hoopermans membuat tulisan tentang Gedong Songo. Lalu tahun 1908 Van Stein Callenfels melakukan penelitian terhadap kompleks candi dan baru pada tahun 1910-1911 Knebel melakukan inventarisasi terhadap Candi Gedong Songo. (sumber: Seputar Semarang)

Selain candi-candi peninggalan abad ke-9, di lokasi ini juga ada kepunden yang terus mengepulkan uap belerang, bunyinya mengaung seperti klakson truk. Dekat kepunden ini pula ada kolam pemandian air panas yang pastinya sangat berkhasiat untuk kesehatan karena kandungan mineral dan belerangnya. Lokasinya tepat di lembah yang memisahkan Candi 4 dengan Candi 3.

Kepunden Gedong SongoSekitar jam 15.30 saya turun gunung, karena angkot kol suzuki yang kearah Ambarawa akan sangat jarang kalau sudah jam 5 sore keatas. Beruntungnya, saya dapat tumpang angkot yang disewa rombongan anak-anak SMP dari Kota Semarang. Lumayan hemat ongkos naik ojek. Sampai di daerah Kenteng saya turun dan lebih memilih jalan kaki sekitar 600 meter sampai pasar Bandungan karena lalu lintas macet. Dari pasar Bandungan saya lanjut lagi ke Polin dengan angkot warna kuning sampai di Ambarawa jam 16.30, kemudian trip saya lanjutkan ke Jogja naik bus Sumber Waras, ongkosnya IDR 14.000. Sampai di Jogja jam 19.40, setelah sebelumnya saya dan penumpang lain dioper ke bus lain di terminal Magelang dan sempat kena macet di daerah Tempel karena hujan deras.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: