Tidur di Terminal, Stasiun, Food Court, atau Bandara?

Tidur di Terminal KL CentralAkomodasi menjadi salah satu bagian penting dalam sebuah perjalanan. Tapi untuk saya, akomodasi gampangnya bisa dibilang numpang tidur. Dalam setiap perjalanan saya tidak selalu mempedulikan kemewahan kamar hotel atau pelayanan yang diberikan. Yang penting bisa untuk tidur melepas lelah selama seharian keliling-keliling kota yang dituju.

Akhir-akhir ini saya kerap berpikir “kalau tidak dapat penginapan ya mau tidak mau tidur di tempat umum”. Seperti restoran cepat saji, food court bahkan terminal atau stasiun yang buka 24 jam. Pada trip saya ke KL akhir April 2011 ini saya melakukannya. Karena penerbangan saya tiba di LCCT Kuala Lumpur hampir tengah malam, daripada menginap di hotel hanya untuk menunggu pagi yang tinggal beberapa jam, lebih baik saya menunggu pagi di food court bandara. Awalnya agak bingung mencari tempat untuk sekedar duduk bersandar, tapi setelah keluar dari pintu kedatangan kemudian mencari-cari tempat yang pas untuk duduk, ternyata di ruang tunggu keberangkatan sudah banyak orang yang nyenyak menggelar selimutnya di sudut-sudut ruangan. Bahkan beberapa bule sudah tidur nyenyak dengan selimutnya di sudut-sudut check-in counter bandara ini. Ternyata saya tak sendiri.

Food Court LCCT Kuala Lumpur

Food Court LCCT Kuala Lumpur

Tapi ketika sedang asyik mau tidur di kursi tunggu, tiba-tiba petugas bandara membangunkan semua orang di ruangan ini. “Bangun-bangun, mohon segera meninggalkan ruang ini karena ruang ini akan ditutup sampai jam 3 pagi” terdengar suara dari seorang petugas, saat itu jam 12 tengah malam. Orang-orang pun meninggalkan ruang tunggu, menuju tempat lain diluar untuk melanjutkan istirahatnya. Saya beralih ke food court yang tak jauh dari ruang tunggu keberangkatan. Ternyata di food court sudah ada beberapa orang yang menjajarkan kursi-kursi sebagai tempat tidur, bahkan ada yang nekat tidur diatas meja makan disudut ruangan. Food court ini buka 24 jam dan beruntungnya tak ada petugas yang rewel mengusir kami, para budget traveler ini. Setelah makan malam disini, saya jejerkan beberapa kursi mengikuti beberapa orang yang sudah lelap tidur diatas kursi.

Lain lagi ketika saya dan teman trip saya, Lukas, tidur di stasiun KL Sentral. Awalnya kami menunggu 1 teman lagi yang sempat kami kira ‘hilang’ di Singapore karena tak ada kabar. Sebelumnya sempat juga ke Chinatown Kuala Lumpur yang lokasinya tak jauh dari Pasar Seni mencari penginapan. Suasana sehabis hujan ditambah sampah yang berserakan mengingatkan pada kondisi pasar tradisional di Jakarta. Keluar masuk sekitar 4 hostel dan peningapan di Chinatown hampir semua kamarnya penuh. Saat itu jam 11 malam dan saya putuskan kembali ke KL Sentral dengan Rapid KL di Pasar Seni, tapi ternyata stasiun sudah tutup. Akhirnya kami berjalan menelusuri pinggiran jalan KL, jaraknya lumayan jauh juga jalan kaki hampir setengah jam. Ada rasa takut juga, takut ditangkap Satpol PP Kuala Lumpur yang malam itu terlihat di sekitar Pasar Seni. Karena kabarnya Satpol PP Malaysia sering menggelar operasi pendatang ilegal. Walaupun kami bukan pendatang ilegal, namun rasa takut itu tetap saja ada dan sepertinya lebih baik menghindari berurusan dengan polisi.

Tidur di Teras KL Central

Di KL Sentral saya dan Lukas menghabiskan beberapa jam di meja KFC lantai 2 yang sudah akan tutup, sampai akhirnya di usir pegawainya karena restoran sudah tutup. Turun ke lantai 1 masih ada Mc-D yang buka 24 jam. Beberapa orang terlihat tidur di sini. Dengan membeli 2 gelas milo hangat berharap kami bisa tidur di restoran ini. Beberapa jam kemudian, karena pegawainya risih dengan banyaknya orang yang asyik tidur, akhirnya dibangunkanlah kami sambil berbisik “Jangan tidur disini!” Tak hanya saya, tapi beberapa orang yang tidur disitu juga dibangunkan. Saat itu hampir jam 3 pagi. Pindahlah kami ke depan pintu masuk KL Sentral di lantai 2. Tak begitu jauh keadaannya, banyak juga orang-orang yang sudah lelap tidur dikursi panjang, ada beberapa yang tidur dilantai diantara kursi dan dinding kaca. Saya hanya bisa tidur sambil duduk dikursi, sementara Lukas saya suruh tidur di lantai beralaskan jaket, dan orang disebelah saya sudah nyenyak dengan berbantalkan tas.

Kereta Api Senandung SuteraHal lain yang bisa dilakukan untuk menghemat waktu dan biaya penginapan, adalah dengan melakukan perjalanan di malam hari. Bisa dengan menggunakan berbagai macam alat transportasi seperti bis, kereta api, pesawat, dan lain sebagainya. Pilihlah transportasi yang sesuai, sesuai dengan budget dan sesuai dengan kondisi perjalanan. Saat akan ke Singapura dari Kuala Lumpur, saya memilih melakukan perjalanan di malam hari dengan kereta api. Untungnya kereta api ini tidak menggunakan kursi untuk duduk, melainkan tempat tidur bertingkat. Lumayan kan, selama kereta berjalan menuju tempat tujuan, saya bisa tidur nyenyak seperti di hostel.

Mix Shared Room HostelTidur dihostel pun terkadang harus berbagi dengan orang lain, istilahnya shared room. Saat di Singapura, karena kehabisan private room di salah satu hostel di Chinatown, saya memilih untuk mengambil shared room dengan 7 tempat tidur bertingkat yang bisa diisi sampai 14 orang . Ini adalah Mix Shared Room dimana perempuan dan laki-laki menempati kamar yang sama. Tapi, ada juga Female Shared Room yang khusus untuk perempuan saja. Untungnya para budget traveler dan backpacker ini punya ethics yang baik, tak ada masalah ketika kamar harus berbagai dengan perempuan atau laki-laki toh tempat tidurnya bisa ditutup dengan kain. Bahkan saat saya  meninggalkan uang di tas di kamar ini, tak hilang sepeserpun. Padahal tas itu saya taruh di samping tempat tidur orang lain dan sudah saya tinggalkan seharian.

Lain cerita saat saya ke Semarang. Karena hujan deras dari magrib, saya berteduh di masjid. Hujan baru berhenti jam 10 malam dan saya tak tahu harus menginap dimana. Akhirnya saya mencari SPBU terdekat yang jaraknya 900 meter dari Masjid ini dengan berjalan kaki tengah malam. Padahal tadinya saya mau nginap di masjid, tapi masjid ini ditutup saat malam. Lumayan juga menginap di SPBU, lebih tepatnya lantai 2 musholla SPBU. Tenang, sepi, dan bisa tidur nyenyak.

Jadi, tak masalah mau tidur dimana saat melakukan trip. Bisa dimana saja, lihat kondisi sekeliling, aman, dan bisa hemat uang juga.

5 Comments »

  1. bunda lingga said

    kalo sampai di KLIA juga tengah malam bagaimana mas?

    • dharto said

      Saya belum pernah mendarat di KLIA, jadi kurang tau transport/tempat yang bisa digunakan untuk tidur.

  2. Hebaaatttt pengalamannya tidur dimanapun :s *prok prok prok*

  3. Dennis said

    kalau ke KL Sentral tengah malam tidak ada transport yg beroperasi dan juga tidak disarankan naek taxi. Jadi kita harusnya bagaimana? apakah harus menginap di airport? atau menginap di KL Sentral? toh waktu pagi menjelang kita juga harus ke KL Sentral untuk menuju ke Bukit Bintang tempat penginapan saya nanti.

    • dHarto..!! said

      Kalau sudah terlalu malam sampai di LCCT, mending menginap di airport LCCT. Disitu ada Surau dan Food Garden yg bisa dipakai untuk istirahat dan tidur. Lumayan untuk menunggu pagi dan menghemat biaya🙂

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: