Sendang Biru dan Pulau Sempu

Pantai di Pulau Sempu

Siang yang cerah itu setelah makan siang di salah satu warung makan di dekat Terminal Bis Gadang, Malang, bersama 5 orang teman, perjalanan saya lanjutkan dengan naik angkutan mini bus ke Terminal Turen. Dengan ongkos 3000 rupiah perjalanan dari Gadang ke Turen butuh waktu selama kurang lebih 30 menit. Sepanjang jalan tampak beberapa anak sekolah pulang ada juga yang tengah berangkat ke masjid karena hari itu Jumat, 14 Mei 2010.

Sebelumnya saya sempat tawar menawar dengan pak supir angkot ini untuk mengantar kami ke Sendang Biru, tapi karena biayanya tidak sesuai dengan dan si pak supir tidak bisa menunggu kami terlalu lama, akhirnya kami urungkan untuk menyewa angkutan mini bus ini.

Selat Sendang Biru

Selat antara Sendang Biru dengan Sempu

Beruntung saya, karena sampai Terminal Turen sudah ada angkutan yang siap berangkat. Kalau tidak, mungkin bisa menunggu lama untuk menunggu angkutan berikutnya yang siap berangkat. Yang saya herankan, angkutan kecil ini muat sampai belasan orang, padahal normalnya mungkin maksimal 8 orang. Dengan jalanan yang berkelok-kelok naik turun gunung serta melewati beberapa desa dan hutan, perjalanan ke Sendang Biru butuh waktu 3 jam. Waktu yang cukup lama dengan posisi duduk yang tidak bisa bergerak karena sangat sempit dengan belasan penumpang yang ditumpuk disatu mobil carry yang sangat kecil.Mungkin akan lebih nyaman kalau duduk diatas mobil dengan beberapa tas penumpang lain, sayang saya tidak sempat mencobanya.

Sendang Biru dari Sempu

Sendang Biru dilihat dari Pulau Sempu

Pintu masuk ke Sendang Biru berupa hutan dengan pohon-pohon besar dan kalau baru pertama kali kesini tidak akan menyangka bahwa di kawasan ini ada pantai. Sampai di Sendang Biru saya dan teman langsung menuju ke Pos Penjagaan Pulau Sempu. Tujuan kami pertama kali adalah untuk trekking ke Segara Anakan yang ada di Pulau Sempu. Tapi karena waktu sampai di Sendang Biru sudah jam 2 siang, penjaga tidak bisa mengijinkan kami masuk kalai hanya untuk sekedar berkunjung kemudian sorenya kembali. Dikhawatirkan waktu trekking yang tidak bisa terduga karena jalur yang sedang becek akan memakan waktu sampai malam hari. Jadi pilihannya adalah camping di Pulau Sempu. Tapi sayang, kami tidak membawa peralatan camping.

Perahu Nelayan

Pulau Sempu di lihat dari Sendang Biru

Akhirya kami hanya menikmati pantai di Pulau Sempu tapi batal trekking ke Segara Anakan. Untuk menyebrang ke Pulau Sempu satu-satunya yang bisa digunakan adalah perahu-perahu nelayan yang banyak bersandar di Pantai Sendang Biru. Dengan ongkos 100.000 rupiah per perahu, kita bisa berbagi ongkos dengan beberapa penumpang lain. Perahu ini bisa memuat hingga belasan orang. Tidak sampai 10 menit perahu sudah sampai di Pulau Sempu, pulau ini mungkin hanya berjarak sekitar 200 meter dari Pantai Sendang Biru. Dengan si supir angkutan dan kernetnya kami menuju Pulau Sempu.

Perahu NelayanBerhenti di salah satu Pantai di Pulau Sempu, kami menikmati pasir putihnya dan sesekali berenang di airnya yang biru. Beberapa objek menarik untuk fotografi juga terdapat di pantai ini, mungkin kalau agak sedikit masuk ke dalam hutannya kita akan menemukan satwa-satwa yang menghuni pulau ini. Dari Pantai ini juga terlihat rumah-rumah di Sendang Biru di sebrang selat. Sesuai jam telah kami sepakati dengan pemilik perahu, sekitar jam 5 sore kami dijemput lagi dengan perahu yang sama untuk kembali ke Sendang Biru. Saat diperahu ketika kembali ke Sendang Biru, jika beruntung kita bisa melihat air terjun dari selat ini, namun sayang waktu itu air terjunnya kering. Padahal kalau airnya mengalir, mungkin akan terlihat indah.

Air Terjun

Air Terjun yang Sedang Kering

Sekitar jam 18.30, kami kembali ke Turen. Dengan menggunakan angkutan yang sama saat kami pergi ke Sendang Biru yang supir dan kernetnya kami ajak juga ke Pulau Sempu. Tapi kali ini angkutannya kami sewa seharga 250.000 untuk mengantarkan kami sampai di Kota Malang. Perjalanan kembali ke kota Malang lebih ekstrim, karena malam hari dan sepanjang jalan pun gelap gulita karena belum ada penerangan jalan. Sesekali angkutan kami berpapasan dengan kendaraan lain dari arah berlawanan, tapi itu jarang sekali.

Mas Iwan, si supir angkutan yang asli orang Sendang Biru, mengatakan kalau sudah malam memang sudah tidak ada angkutan yang ke Turen. Paling sore itu jam 5, itupun sudah jarang. Ditengah jalan yang persis ditengah hutan dan jauh dari pemukiman penduduk, kami berpapasan dengan 3 orang warga setempat yang tidak bisa pulang karena motornya mogok. Walhasil si bapak dan ibu yang dari berkebun itupun menunggu kendaraan yang lewat untuk bisa ditumpangi. Dengan senang hati kami mengajak mereka untuk bisa pulang ke desa yang jaraknya lumayan jauh dari tempat mereka berkebun.

Sampai di Kota Malang sekitar jam 8.30 malam, kami di drop tepat di depan statiun kereta api Kota Malang. Langsung kami lanjutkan petualangan pertama di Kota Malang ini dengan makan malam di salah satu warung yang berada tepat di sebrang Stasiun Malang. Kami sengaja tidak check in penginapan karena tengah malamnya petualangan akan kami lanjutkan ke Gunung Bromo. so, let us go show this first night in Malang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: