Bagasi ditinggal Pesawat

Sabtu, 02 Oktober 2010 tujuan kami ke Kabupaten Natuna. Letaknya paling utara dan paling jauh dari kabupaten-kabupaten lain di Kepulauan Riau. Oleh karena letaknya yang cukup jauh dan dipisahkan oleh Laut Natuna maka untuk cepat sampai di Ranai Ibu Kota Natuna harus menggunakan pesawat terbang.

Hari itu kami menggunakan maskapai penerbangan Wings Air. Jadwal penerbangan dengan menggunakan Maskapai Wings Air dari Bandara Hang Nadim di Batam adalah jam 09.10 pagi dan dijadwalkan sampai di Bandara Ranai di Natuna pada pukul 10.35. Kami harus check in pagi sekitar jam 08.00 pagi di Bandara Hang Nadim.

Pagi itu kami sampai di Bandara Hang Nadim Batam. Langsung menuju check in counter tujuan Natuna. Proses yang masih manual yang tidak terkomputerisasi mengakibatkan proses check in begitu lama. Terlebih penumpang yang akan melakukan check in untuk tujuan Natuna semakin siang semakin banyak sehingga menimbulkan antrian yang cukup panjang. Saya pun duduk menunggui beberapa tas dari tim kami. Sementara hampir sekitar 30 menit antrian proses check in tidak bergerak.

Pada saat proses check in kami memasukkan 2 tas ransel besar. 1 travel bag dan 1 tripod ke bagasi pesawat dengan total masing-masing bagasi tak melebihi batas berat bagasi untuk setiap penumpang. Tas ransel milik saya hanya 9,7 kg sementara 2 tas lainnya tak melebihi berat tas ransel yang saya bawa. Proses check in pun selesai. Lalu kami menuju gate A5 di lantai 2 untuk menunggu pesawat. Cuaca saat itu cerah.

Sekitar 30 menit sebelum keberangkatan petugas informasi memberitahukan bahwa penerbangan satu-satunya ke Natuna dengan Wings Air ditunda selama 1 jam 20 menit. Sehingga, jadwal keberangkatan yang tadinya pukul 09.10 menjadi pukul 10.30. Selama menunggu pesawat yang ditunda keberangkatanya penumpang Wings Air tujuan Natuna diberikan sekotak snack yang berisi satu teh kotak dan satu buah wafer.

Sekitar pukul 10.30 perjalanan ke Natuna dengan pesawat berbaling-baling ini siap terbang. Pesawat ini hanya punya 2 baris kursi. Di sebelah kanan dan 2 baris di sebelah kiri. Sampai mendarat di Bandara Ranai yang tidak begitu besar sekitar pukul 12.00 siang.

Pesawat mendarat di Bandara Ranai

Setelah proses mendarat sempurna penumpang dipersilakan keluar dari pesawat. Kemudian menuju bangunan di bandara yang tidak jauh dari landasan tempat pesawat mendarat untuk proses pengambilan bagasi. Saat kami keluar dari pesawat menuju tempat pengambilan bagasi tampak cukup banyak orang di sekitar bangunan itu.

Ada yang mau berangkat dengan pesawat yang sama. Ada yang menunggu keluarga yang telah mendarat, ada juga yang akan mengambil barang bawaannya.

Setelah menunggu agak lama truk pengangkut bagasi sampai di depan bangunan yang ternyata bangunan tersebut adalah kantor untuk check in dan klaim bagasi. Beberapa penumpang berebutan mengambil bagasi karena tidak menggunakan ban berjalan seperti yang ada di bandara-bandara besar.

Kantor Kedatangan Bandara Ranai

Setelah penumpang yang mengambil bagasi agak berkurang kami pun mencari barang bawaan kami yang sebelumnya kami masukkan ke bagasi di Bandara Hang Nadim. Setelah mencari sana-sini dan bertanya ke petugas bandara dari 3 rangkaian truk pengangkut bagasi penumpang tak satu pun kami menemukan barang bawaan kami.

Petugas bandara yang kami tanya pun memberikan jawaban kurang lebih, “kami hanya mengambil barang dari pesawat dan hanya ini barang tersebut. Untuk pengurusan barang yang tidak ada silakan menghubungi perwakilan Wings Air di kantornya di ujung sana,” kata petugas itu sambil menunjuk lokasi bangunan lain kurang lebih sekitar 80 meter dari tempat penurunan bagasi.

Ternyata bukan hanya kami saja yang barang bawaannya tidak ada. Ada sekitar 19 penumpang lain yang barang bawaannya juga tak ada. Keluh kesah yang saya dengar seperti berikut. “Harusnya kasih tau dong sebelum keberangkatan kalau barang yang masuk bagasi nggak semuanya diangkut.” Ada juga yang bilang, “kok, nggak ada pemberitahuan sih tadi sebelum berangkat kalau pesawat over capacity.”

Saya juga termasuk yang agak bingung dengan Wings Air ini. Karena, dari 3 tas kami dan 1 tripod yang kami bawa tak satu pun diangkut Wings Air ke Ranai. Semua baju, charger handphone, dan laptop semua ada di tas tersebut.

Ternyata dari beberapa penumpang dan orang-orang setempat yang saya tanyai juga pernah mengalami hal sama dengan penerbangan yang sama. “Iya, tas saya juga pernah ditinggal di Batam beberapa waktu lalu saat libur lebaran,” ujar Bapak Darwis, seorang pengemudi taksi. Hal yang sama juga terjadi pada Ibu Satiyah, penduduk asli Ranai. “Tas saya udah ditinggal sejak hari Kamis. Mana isinya oleh-oleh untuk anak saya lagi. Mungkin udah remuk kali.”

Bapak Amar lebih parah. Walaupun baru mendarat tapi 6 tas dari 15 orang rombongannya ditinggal di Batam. Padahal, barang bawaan tersebut berisi barang dan bahan untuk acara pernikahan kerabatnya. Tapi, harus menunggu sampai 2 hari kemudian agar barangnya sampai di Ranai. Padahal, acara pernikahan akan dilaksakan esok hari.

Bapak Amar

Dari beberapa orang yang saya tanyai mengakui ternyata hanya penerbangan Wings Air saja yang sering meninggalkan barang bawaan penumpang yang masuk dalam bagasi. Penumpang pun sepertinya tak punya pilihan lain selain Wings Air karena penerbangan ini menjadi satu-satunya penerbangan langsung dari Batam setelah Riau Airlines tidak beroperasi.

Protes dan keluhan dari penumpang yang dikecewakan ini juga sudah sering dilakukan. Tetapi, sepertinya pihak maskapai Wings Air tidak begitu mempedulikannya. Terbukti dari seringnya terjadi hal ini yang sangat mengecewakan dan merugikan penumpang.

Terlebih kami yang bukan tinggal di Ranai. Harus menunggu dua hari berikutnya untuk diantarkan barang bawaan kami dari Batam. Itu pun kalau tepat diantarkan pada hari yang dijanjikan karena ada juga barang bawaan yang harus diterbangkan 4 hari atau bahkan seminggu kemudian.

Penumpang Lain

Bagi kami yang merupakan pendatang di Ranai dan hanya singgah selama 1 hari tentu ini sangat merugikan. Jadwal kami yang seharusnya sudah ke Anambas harus rela dibatalkan dan harus mengalihkan tujuan ke Pontianak untuk kembali ke Batam. Karena, jadwal kapal laut yang hanya satu minggu sekali.

Semoga ini dapat membuat pihak Wings Air memperbaiki pelayanannya kepada penumpang. Setidaknya ada pemberitahuan pada saat sebelum keberangkatan tentang status barang yang masuk ke dalam bagasi pesawat. Atau jika setiap penumpang terjadi kelebihan beban seharusnya pihak Wings Air bisa memberikan batasan berat barang bawaan setiap penumpang agar tidak melebihi kapasitas yang bisa dimuat pesawat. Bukannya membiarkan barang bawaan ditinggal di bandara keberangkatan tanpa pemberitahuan seperti ini. Terima kasih.

repost dari www.detik.com

2 Comments »

  1. anak lab said

    waw… untung kampung saya bukan di sana ya…😛

  2. galuh said

    Wah parah juga ya, bisa panik setengah mati q kalau sampai kejadian kayak gitu, Thanks infonya mas

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: