Angkutan ke Malang

Malang, sudah lama aku ingin sekali datang ke kota ini. Banyak yang bilang Kota Malang itu sejuk dan tidak bising seperti Jakarta.

Berangkat dengan 5 orang teman dengan menumpang kereta ekonomi Matarmaja dari Stasiun Senen, Jakarta, tujuan akhir stasiun Kota Baru, Malang. Beberapa pengalaman selama perjalan adalah, hampir 19 jam duduk di kereta ekonomi yang berisik oleh lalu lalang para pedangan yang seakan tidak ada habisnya.Pagi hari ketika sampai di St. Garum, Blitar, kereta tidak bisa melanjutkan perjalanan ke St. Malang karena ada kereta lain yang anjlok. Terpaksa kami harus melanjutkan dengan angkutan umum menuju Terminal Gadang yang ditempuh dalam 2 jam dari St. Garum, Blitar.

Belum lagi ketika perjalanan pulang ke Jakarta. “Stasiun Tawang di Semarang di genangi banjir rob setinggi paha orang dewasa” desas desus beberapa penumpang. Dengan menumpang kereta yang sama dan dengan jalur yang sama pula, kami harus rela terjebak di dalam kereta selama hampir 30 jam karena kereta harus rela mengantri dengan rangkaian kereta lain untuk melewati banjir rob di St. Tawang, Semarang, “lokomotif yang narik harus gantian dengan kereta lain” kata salah seorang petugas KA ketika kereta berhenti di St. Alastuwa. Total waktu perjalanan dari Malang ke Jakarta hampir 30 jam. 1,5 kali lebih lama dibandingkan saat berangkat ke Malang.

Stasiun Alastuwa

Stasiun Alastuwa

Cerita lain yang sedikit unik adalah angkutan umum yang membawa kami dari Terminal Turen ke Sendang Biru. Seperti angkot di Jakarta pada umumnya, carry, tapi dengan kursi yang menghadap kedepan semua. Harus rela berdesak-desakan dengan 20 orang penumpang lain dalam satu angkot selama 3 jam perjalanan. Dengan formasi kursi depan 4 orang termasuk supir, dan 4 baris kursi di belakang diisi 4 orang dewasa tiap barisnya ditambah 3 orang anak-anak yang dipangku ibunya. Belum lagi kalau ada penumpang di tengah jalan yang harus diangkut, si penumpang harus rela untuk duduk di atas mobil bersama barang-barang lain seperti tas dan barang belanjaan milik penumpang lain. Maklum ongkosnya hanya IDR 12.000 untuk menumpang sebuah angkot selama 3 jam dengan jalanan berliku. Huft,,sungguh pengalaman yang tidak di dapatkan di Jakarta.

Untungnya kami menyewa angkot yang sama untuk kembali ke Kota Malang seharga IDR 250.000, jadi terasa lebih lega dibanding saat berangkat karena carry hanya diisi 8 orang + 3 penduduk lokal yang diangkut dengan cuma-cuma di tengah hutan karena sudah tidak ada angkot lainnya.

Sendang Biru dan pulau Sempu

Sementara untuk menyebrang ke Pulau Sempu, kami menyewa perahu nelayan seharga IDR 100.000. Padahal jarak antara daratan pulau Jawa dengan Pulau Sempu tidak terlalu jauh. Mungkin kalau bisa jalan kaki bisa ditempuh dalam waktu 10 menit, sayangnya terhalang air laut yang membentuk sebuah selat yang lumayan dalam. Satu perahu dapat memuat sampai sekitar 20 orang, diantar kemudian dijemput sesuai kesepakatan waktu.

Dan untuk di Bromo sendiri, mobil APV Arena yang disewa dari Kota Malang ternyata tidak diperbolehkan untuk mendaki ke Puncak Penanjakan dan juga tidak boleh menuju lautan pasir. Karena untuk menuju 2 lokasi tersebut, kemampuan mobil harus bisa “four wheel drive” alias ke empat bannya bisa digerakkan, Jadi ketika mobil terjebak pasir atau ketika tidak kuat menanjak, masih bisa dibantu oleh dua bannya di depan. Nama Supirnya Heri, seorang Tengger penganut Kristen, cukup ramah dengan kami yang baru kenal beberapa jam. Harga sewanya IDR 350.000, “ini udah dari paguyuban” kata si supir dengan logat Jawanya dan itu hanya mengantar dari tempat parkir mobil ke Puncak Penanjakan dan parkir Bromo, sementara untuk ke Lautan pasir dan padang savana harus tambah uang lagi sesuai nego dengan si supir.


Yang sedikit agak nyaman adalah ketika kami menyewa APV Arena untuk menuju Gn. Bromo. Akhirnya bisa istirahat juga, setelah non-stop perjalanan dari Jakarta sampai ke Sendang Biru, di Kabupaten Malang yang kira-kira kalau di total 24 jam. APV ini kami sewa mulai tengah malam, sekitar pukul 00.30 sampai pukul 14.30 keesoka harinya. Dengan harga sewa IDR 600.000 per hari, supirnya ramah dan mengerti selera musik penumpang. Lumayanlah untuk sebuah harga.

1 Comment »

  1. dharto said

    perjalanan yang seru..!!

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: