Setelah 18 Tahun

Hari itu Lebaran pertama, sampai rumah setelah selesai Sholat Ied langsung keliling sekitar rumah untuk bermaaf-maafan dengan tetangga. Kebiasaan itu kami lakukan setiap tahun dan biasanya selesai sebelum adzan dzuhur. Setelah itu kami menghabiskan waktu dirumah.

Siang itu setelah dzuhur, ibu bilang padaku “yuk ke Batu Ceper, Tangerang!”. “Ngapain bu?” jawabku ringan, dan ibu pun menimpalinya dengan santai “Ke rumah Bu Haji tempat kita dulu tinggal”. Ya memang, dulu orang tuaku pernah menyewa sebuah rumah petak di daerah Batu Ceper, Tangerang tahun 1984 milik orang asli setempat yang kami sebut Pak Haji dan Bu Haji.

Memang sudah lama sekali semenjak Ibuku, aku dan adikku pindah ke kampung halaman di Jogja, kami tak pernah lagi bertemu dengan mereka. Ketika itu usiaku masih 3 setengah tahun sedang adikku baru beberapa bulan, sehingga aku tak pernah lagi ingat wajah mereka.

Sekarang kami sudah tinggal lagi di daerah Karang Tengah dan sudah sekitar 18 tahun kami tidak pernah lagi bertemu dengan mereka. Pada kesempatan Lebaran ini ibu mengajak kami sekeluarga untuk mengunjungi Pak Haji dan Bu Haji.

Dengan dua sepeda motor kami berangkat dari rumah ke Batu Ceper, sekarang namanya telah berganti menjadi Batu Sari, tidak jauh Bandara Soekarno Hatta. Hanya sedikit kenangan yang dapat kuingat bahwa aku pernah tinggal disana belasan tahun lalu, satu kenangan yang jelas kuingat adalah daerah itu dekat dengan Bandara Soekarno Hatta. Waktu itu aku pernah diajak tetangga dengan menggunakan mobil pick up bandara untuk melihat pesawat terbang yang sedang mendarat ataupun akan lepas landas.

Sampai di sana ayahku sedikit bingung dengan daerah yang kami tuju, rumah-rumah telah banyak berdiri dengan rapatnya hingga tak menyisakan lagi ruang terbuka yang dahulunya adalah sawah tempat kambing-kambing biasa merumput. Setelah bertanya pada beberapa orang yang kebetulan ada di sana, ternyata ayah tidak salah dan kami tepat berhenti tepat didepan rumah Pak Haji. Tapi sayang, penghuni rumah sedang tidak ada karena sedang keluar rumah.

Tidak berhasil bertemu dengan sang pemilik rumah lantas kami tidak begitu saja pulang. Ayah mencari rumah tetangga kami dulu, Pak Kijo namanya, ibuku selalu membiasakan aku menyebutnya Pakdhe Kijo. Walaupun kami bukan keturunan sedarah, tapi ibu selalu memang membiasakan demikian.

Ketika kami dirumah Pak Kijo banyak hal yang ibu dan ayahku bicarakan, mungkin karena sudah 18 tahun tidak bertemu. Banyak sekali yang sudah berubah, mulai dari pekerjaan, tempat tinggal, bahkan sekarang beliau sudah dipercaya sebagai ketua Rukun Tetangga setempat. Lelaki berusia sekitar 60 tahunan itu sekarang tinggal berdua dengan anak perempuan angkatnya semenjak istrinya meninggal setahun yang lalu. Sedangkan kedua anak lelakinya telah menikah dan tinggal dengan keluarga mereka. Pak Kijo juga bercerita bahwa Pak Haji, pemilik rumah yang kami sewa dulu kini telah meniggal. “Sekarang tinggal Bu Haji sama anak-anaknya” tukasnya.

Sore itu langit terlihat kelabu, mendung mulai menyelimuti langit Tangerang, pukul lima kira-kira. Karena belum bertemu dengan Bu Haji, dari rumah Pak Kijo kami menuju rumah Ibunda Bu Haji tak jauh dari situ. “Kita mau kemana lagi bu?” tanyaku pada Ibu. “Ke rumah ibunya Bu Haji” jawabnya Ibu dengan santai.

Di depan rumah itu terlihat seorang perempuan tua berkerudung putih dengan baju terusan berwarna hijau muda sedang duduk memperhatikan kami. Heran, ya mungkin itulah yang ada dibenaknya saat ibuku bertanya padanya, diikuti bapak yang juga menghampirinya. “Adek siapa ya?” tanyanya perempuan tua itu. Sempat terlintas dalam pikiranku, mungkin ini Bu Haji yang Ibuku maksud. Benar saja, setelah Ibu menjelaskan padanya dia baru ingat. Pantas memang kalau sudah tidak ingat lagi, karena sudah 18 tahun tidak pernah bertemu.

Hanya beberapa kenangan yang sempat aku dengan dari Bu Haji, “Lha ini dia ya! masih ada aja dia nih orang!” candanya pada Bapak. Sedang pada Ibu dia sempat berucap “Masih awet muda aja dek?”, “Ibu juga masih awet muda!” balas ibu. Memang Ibu bilang tidak banyak yang berubah dari penampilan Bu Haji. “Dari dulu mukanya kayak gitu, nggak tua-tua” ucap Ibu dalam perjalanan pulang. Sedang yang sempat dia ingat dariku hanya sedikit, “yah, dulu mah anak-anaknya masih kecil ya! sekarang udah pada gede!”.

Tak banyak yang kami bicarakan karena memang sudah sore dan mendungpun semakin gelap. Lekas kamipun berpamitan pada beliau juga dengan beberapa orang yang sedang berkunjung di rumah itu. Setelah 18 tahun silaturahmi itu kembali ada.

2 Comments »

  1. Dimas said

    sepertinya lebaran yang berkesan🙂
    ————————————-

    sepertinya begitu..😀
    -dHarto..!!-

  2. eka said

    pasti ngerasa gimanaa gitu pas sampe sana…🙂
    ————————————————–

    diem aja, nggak ngomong apa2😀
    *kayak anak baik2 gitu*
    -dHarto..!!-

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: