Kilometer Nol Indonesia

Monumen Kilometer Nol Indonesia

Tugu Kilometer Nol Indonesia

Pulau Weh lebih dikenal sebagai Sabang daripada namanya sendiri. Nama Weh berasal dari kata dalam Bahasa Aceh yang artinya “Pindah”. Sementara nama Sabang berasal dari kata dalam bahasa Arab “Shabag” yang artinya Gunung Meletus. Menurut cerita rakyat yang beredar, dulunya Pulau Weh menyatu dengan daratan Sumatera [atjehcyber]. Jika cuaca sedang bagus, pulau ini dapat terlihat jelas dari pantai Ulee Lheue.

Sekitar jam 8.30 pagi saya dan Budi sudah sampai di pelabuhan ferry Ulee Lheue. Dengan kapal cepat Pulo Rondo, kami akan ke pulau paling barat Indonesia. Tiketnya IDR 60.000 untuk tujuan pelabuhan Balohan (Pulau Weh) dengan waktu tempuh selama 1 jam. Jadwal keberangkatannya hanya sekali setiap hari yaitu pukul 9.30 pagi. Sampai di pelabuhan Balohan di pulau Weh ternyata tidak ada angkutan umum seperti angkutan umum di kota. Yang ada hanya beberapa mobil L-300 lusuh yang difungsikan layaknya travel dengan supir dan kernet yang sudah siaga mencari penumpang yang baru turun dari kapal.

Freddies Cottage Sumur TigaPilihan kami hanya naik mobil ini karena untuk menuju Kota Sabang butuh waktu sekitar 30 menit dengan mobil, yang artinya tidak ada kemungkinan berjalan kaki ataupun naik ojek. Ongkosnya hanya IDR 15.000 tapi karena kami terlihat sebagai pendatang baru maka tarifnya dilebihkan IDR 5.000.

Selama perjalan dari pelabuhan Balohan ke Kota Sabang, saya manfaatkan untuk mengobrol dengan si kernet. Tanya sewa motor dan tanya penginapan, karena di Sabang tidak ada angkutan umum. Beruntung si kernet punya teman yang menyewakan motor dan kami diantarkan ke rumah temannya didekat Kantor Dinas Pariwisata Kota Sabang.

Pantai Desa Sumur Tiga

Dengan motor lawas sewaan seharga IDR 100.000 yang dibayar belakangan dengan jaminan KTP Saya, tujuan pertama kami adalah Pantai Sumur Tiga. Dari penginapan Freddies di Desa Sumur Tiga, kami menuruni tebing dari tangga plesteran yang terlihat licin karena basah menuju pantai. Beberapa cottage dari kayu dan bambu beratapkan rumbia terlihat menggantung ditepian tebing cadas diselingi pohon-pohon kelapa yang melambaikan daunnya dengan pemandangan pantai pasir putih serta air laut yang membiru. Wajar saja jika Pantai Sumur Tiga dan Penginapan Freddies menjadi tempat favorit bagi turis asing di Sabang.

Rute Tugu Kilometer Nol   Jalan di Pulau Weh

Sebelum terlalu sore, dari Pantai Sumur Tiga kami tugu Nol Kilometer di ujung barat laut Pulau Weh . Jaraknya 29 km dari Kota Sabang, dapat ditempuh selama 30 menit dengan motor. Jalur menuju tugu Nol Kilometer ini ada disepanjang pinggir pantai sesekali masuk perkampungan, masuk hutan, naik turun bukit dengan tikungan yang cukup curam. Jadi, saya yang biasa mengantuk saat mengendarai motor, harus hati-hati dan waspada karena siang itu di beberapa tempat jalanan basah karena gerimis. Untungnya Budi tetap mengajak mengobrol, sambil sesekali kami menggodai anak-anak sekolah yang baru pulang dengan berjalan kaki yang membuat kami tertawa.

Kawasan tugu Nol Kilometer cukup jauh dari perkampungan penduduk. Hanya ada satu warung yang buka dan itu satu-satunya. Sepi, pengunjung hari itu bisa dihitung dengan jari. Terlihat ada babi hutan yang sedang mencari makan didepan warung, babi hutan yang hampir saya tabrak dipintu masuk kawasan tugu karena tiba-tiba saja dia keluar dari hutan melintasi jalanan, dan itu tepat didepan motor yang saya kendarai.

Laut Andaman dari Tugu Kilometer Nol   Prasasti Kilometer Nol Indonesia

Area tugu ini langsung berhadapan dengan Laut Andaman di sisi baratnya. Dari posisi ini yang tepat persis diatas tebing batu menghadap laut sebenarnya bisa terlihat sunset yang cantik. Tapi sayangnya hari itu tak sempat sampai sore mengingat sepanjang jalan menuju tugu ini siang hari saja gelap, apalagi malam hari. Kegiatan di tugu hanya melihat-lihat kawasan tugu dan mengambil beberapa foto. Tampaknya tugu ini kurang terawat, beberapa coretan di dinding-dinding tugu dan prasasti memperlihatkan kurangnya kesadaran para pengunjung untuk menjaga aset wisata ini.

Iboih dan Pulau Rubiah

Pantai Iboih dan Pulau Rubiah

Dari ujung pulau Weh kami menuju Iboih (yang seharusnya dibaca Iboh), ini kampung paling dekat dengan tugu. Penginapan di Iboih lumayan murah, dengan kisaran IDR 100.000 untuk shared bathroom, dan IDR 150.000 untuk private bathroom. Karena masih pukul 4 sore, kami sempatkan untuk snorkeling di sekitar Pulau Rubiah yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari pantai Iboih.

Snorkeling Pulau RubiahDengan menyewa perahu seharga IDR 100.000 dan alat snorkeling IDR 35.000 yang banyak disewakan kios-kios pinggir pantai, kami diantar snorkling disekitar pantai Pulau Rubiah. Walau belum terlalu gelap, tapi air laut sore itu sudah mulai dingin. Hasilnya perut saya mual-mual, ditambah lagi waktu penjemputan masih lama. Saya tak terlalu menikmati snorkeling ini dan 1 jam kemudian baru dijemput perahu.

Tak susah mencari makanan ataupun suvenir di Iboih. Kios-kios permanen berlantai dua banyak berjajar dipinggir pantai. Karena kebanyakan masyrakat Iboih bergantung pada hasil laut, tentunya makanan pun kebanyakan Ikan dan hasil laut lainnya. Begitu juga dengan suvenir, banyak suvenir khas Aceh, khususnya Sabang, seperti kaos dengan tulisan Sabang tapi banyak pula suvenir dengan dominasi hasil laut seperti kerang-kerangan.

Peta Wisata Pulau Weh

Peta Wisata Pulau Weh

10 Comments »

  1. tulus said

    Baguus ΒªªªηǤ³³ε†….cari sponsor dulu ahh…

    • dharto said

      kalau nggak ada sponsor, harus nabung dari sekarang ya :P

  2. wiwi said

    mas..punya cp penginapan freddies dan penginapan yg di Iboih gak/

    • dharto said

      Wah..waktu kesana nggak sempat nanya, jadi nggak punya.

  3. Budi said

    penasaran jaminannya pake ktp gw deh to :-P

    • dharto said

      Itu bukannya sewa motor di Belitung yg pake KTP lo Bud? Lupa gw dah, it’s been 2 years ago.

  4. Tujuan yang selalu tertunda…dikalahkan oleh trip indonesia timur..:-(

    • dharto said

      Wah, saya kebalikannya. Selalu tertunda trip timur, kebanyakan ke barat

  5. ireneindah said

    mudah2 bisa touring sampe kilometer nol indonesia :D #wishlist

    • dharto said

      sepertinya kalau kesana lagi harus bisa diving nih.. pengen diving diatas gunung api bawah laut yg airnya hangat

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: