
Sekitar jam 8.00 pagi saya turun di depan Stekom Baru sebelum pintu tol Krapyak karena bus Giri Indah yang saya naiki akan masuk tol Semarang kemudian lanjut kearah Solo. Saya pikir akan diturunkan ditengah kota. Untungnya saya turun tepat disamping halte Bus Rapid Trans nya Semarang. Saya memutuskan naik bus ini, karena hasil tanya ke mbak petugas karcisnya bus ini lewat Simpang Lima dan Tugu Muda (Lawang Sewu). Di bus tampak kosong, hanya ada beberapa anak sekolah yang mau berangkat, mungkin karena hari itu Sabtu, tepatnya Sabtu ketiga diawal tahun 2012. Dengan harga karcis IDR 3.500, tak sampai 20 menit saya sampai di halte terdekat dari Tugu Muda, kira-kira 500 meter.
Tujuan pertama adalah ke Lawang Sewu, ikon kota Semarang yang paling terkenal. Pengunjung juga masih sepi karena masih pagi, terlihat di depan pintu gerbang beberapa petugas ber ID-Card sedang menunggu pengunjung untuk dipandu berkeliling gedung tua milik PT. KAI ini. Tiket masuk Lawang Sewu IDR 10.000 per orang dan untuk jasa pemandu IDR 30.000. Agak mahal untuk saya membayar IDR 40.000 seorang diri. Akhirnya saya memutuskan untuk menunggu pengunjung lain untuk ikut gabung supaya bisa lebih murah bayar pemandunya. Oya, tiket masuk yang IDR 10.000 itu belum termasuk tiket untuk masuk ke ruangan/lorong bawah tanah yang juga harganya sama.
Agak lama juga menunggu pengunjung lain yang kira-kira cocok bagi saya untuk ikut bergabung, akhirnya ada 4 orang mbak-mbak paruh baya yang juga baru sampai di Semarang membolehkan saya bergabung dengan mereka. Lumayan, mereka yang bayar pemandunya, sementara saya hanya bayar tiket masuknya saja. Sebagai gantinya saya jadi tukang fotonya mereka. Tak apalah.
Selesai keliling gedung Lawang Sewu, tadinya saya mau ngangkot ke lokasi lain, sudah say goodbye dengan mbak-mbak itu karena mereka juga akan ke pindah lokasi wisata lain. Tapi setelah dipikir kenapa nggak gabung saja dengan mereka, lumayan bisa lebih hemat dan ada teman jalan, ditambah lagi salah satu mbaknya menawari saya. Pas banget, ternyata mbak Eva yang ngajak itu bawa mobil, karena dia tinggal di Semarang, sementara 3 temannya yang datang dari Jakarta.
Tujuan berikutnya adalah Pagoda Avalokitesvara Watugong. Bisa naik bus umum dari arah Semarang ke arah Ungaran (bus Semarang-Jogja/ Semarang-Bawen /Semarang-Solo) sekitar 20 menit dari Tugu Muda. Pagoda ini beratap 7 susun dengan bangunan berbentuk segi delapan, dipelataran pagoda ada pohon Bodhi yang ditanam oleh Narada Mahathera tahun 1955 dan ada patung keemasan sang Buddha dibawahnya dan patung Dewi Kwan Im di tangga menuju pagoda. Di dalam padoga ada patung Kwan Sie Im Po Sat dan di sekeliling luarnya ada patung dewa-dewi lain.
Dari Watugong, kami kembali ke Kota Semarang untuk makan siang di Ikan Bakar Cianjur daerah Kota Lama. Sekalian mengitari kawasan Kota Lama, termasuk Kantor Pos Indonesia, Stasiun Tawang, Gereja ‘Immanuel’ Blenduk, Taman Srigunting, dan bangunan tua peninggalan Belanda lainnya. Bangunan Resto Ikan Bakar Cianjur sendiri juga termasuk lama, terlihat dari arsitekturnya yang berpintu dan berjendela besar serta beratap tinggi ditambah dengan interior barang-barang tua yang antik.
Dari Kota Lama saya di drop di Simpang Lima, karena mereka mau pulang sementara saya mau lanjut ke lokasi lain.
Tadinya saya mau ke tempat teman di daerah BSB, dari arah Semarang arah Kendal. Tapi saya batalkan karena belum tau daerah itu apalagi sudah jam 3 sore, sementara masih ada beberapa lokasi yang belum datangi.
Setelah istirahat sejenak di Masjid Baiturrahman Simpang Lima saya lanjutkan ke Kelenteng Sam Poo Kong. Dengan angkot merah tujuan Sampangan dari Simpang Lima. Turun di pinggir jembatan Kaligarang lalu jalan sekitar 400 meter. Masuk kawasan Kelenteng Sam Poo Kong dipungut IDR 3.000, sementara untuk masuk ke bangunan Kelentengnya sendiri khusus bagi yang mau sembahyang, tapi kalau mau masuk pun boleh asalkan membawa hio yang bisa dibeli di kios pada pintu masuk seharga IDR 10.000 untuk 2 buah hio. Di Kelenteng ini ada 3 bangunan utama beratap susun 3 dengan arsitektur khas Tiongkok, patung dewa-dewi serta pahatan batu pada dinding dan tiang-tiang bangunan. Sementara di depan Kelenteng terbesar ada patung Zheng He (1371-1435), sang duta perdamaian dari negeri Tiongkok. Konon Zheng He adalah seorang Muslim dan pada awal kedatangan Zheng He kelenteng ini difungsikan sebagai masjid. (www.Indonesia.travel)
Karena sudah jam 5 sore dan sejak pagi belum mandi, numpanglah saya mandi di toilet umum yang ada di kelenteng ini. Kamar mandi yang dijaga seorang kakek yang ramah ini cukup bersih. Mungkin karena letaknya nyempil dibalik pohon besar jadi jarang orang juga.
Dari Kelenteng Sam Poo Kong saya lanjutkan ke Masjid Agung Jawa Tengah. Saya naik angkot warna kuning didepan Kelenteng ke Pasar Karang Ayu lalu lanjut lagi naik angkot merah tujuan Penggaron turun di Makro (Lottemart) Kabluk. Angkot merah ini lewat Tugu Muda dan Simpang Lima juga. Dari perempatan Kabluk karena sudah jam 6 sore nggak ada lagi angkot ke Masjid Agung. Alternatifnya naik becak, ojek yang jarang, atau jalan kaki 1,7 km.
Sampai di Masjid Agung sudah gelap. Tak banyak yang bisa dilihat dengan jelas pada malam hari ditambah lagi hujan deras yang mengguyur sampai jam 9 malam, yang terlihat hanya menara-menara masjid dengan satu kubah utama serta keenam payung hidrolik raksasa yang tertutup rapat. Untuk naik ke menara Asmaul Husna dengan tinggi 99 meter saja sudah tutup karena cuaca hujan. Didalam masjid terlihat beberapa orang yang menunggu hujan reda sambil melihat-lihat Al-Quran yang berukuran sangat besar, bedug raksasa, serta hiasan lampu kristal yang digantung dibawah kubah utama.
Keluar dari Masjid sekitar jam 21.30, lanjut makan bakmie Jawa di depan Masjid, mengisi perut yang kosong diudara Semarang yang dingin selepas hujan. Sambil tanya tempat bermalam. Awalnya saya mau menghabiskan malam menunggu pagi di kawasan Simpang Lima, tapi karena habis hujan sepertinya tak memungkinkan untuk duduk-duduk sampai pagi di tengah kota itu. Cari masjid/mushola juga sepertinya agak susah, apalagi Masjid sebesar ini, pasti ditutup saat malam. Jadi, tujuan saya adalah pom bensin yang buka 24 jam, dan pasnya lagi mushola yang ada di Pom Bensin Masjid Agung Jawa Tengah ini ada dilantai 2, sepi, dan ada kamar mandi yang bersih pula. Walaupun untuk ke pom bensin ini saya harus jalan kaki sekitar 900 meter tapi nyenyak juga saya tidur disini. Besok paginya saya harus melanjutkan perjalanan ke Ambarawa dan sorenya menuju Jogja lewat Magelang.




buzzerbeezz said
Aku sering ke Semarang malah belum pernah ke Avalokitesvara dan Lawang Sewu mas. Padahal kalo lewat sana sering banget. Terakhir kali ke Semarang pas mau ke Avalokitesvara menjelang waktu shalat jumat. Trus pas mau ke Lawang Sewu malam2 eh pas tutup.
dharto said
Wah,, Lawang Sewu harusnya wajib tuh kalo ke Semarang