Jalan-jalan ke Banda Aceh

Masjid Raya Baiturrahman

Jumat terakhir di bulan November 2010. Tiket pesawat sudah saya pesan beberapa bulan sebelum keberangkatan, yang sudah pasti harganya lebih murah. Kali ini saya akan menghadiri undangan dari teman yang akan melangsungkan pernikahan di Banda Aceh. Pengantin laki-laki dan pengantin perempuan ini dua-duanya teman kuliah saya. Pengantin perempuan asal Aceh sementara pengantin laki-laki dari Jakarta. Berangkat dari Jakarta dengan 2 orang teman lagi, Budi dan Nanda. Sekali mendayung, dua, tiga pulau terlampaui, jadi  sambil menghadiri undangan, sekalian jalan-jalan pula.

bandara sultan iskandar muda

Sultan Iskandar Muda Airport

Walaupun banyak teman saya bilang kalau saya sering jalan-jalan, tapi ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Pulau Sumatera. Penerbangan ke Bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh dari Cengkareng kurang lebih 3 jam dengan transit di Bandara Polonia Medan sekitar setengah jam. Sampai di Sultan Iskandar Muda ternyata sudah dijemput teman yang tinggal di Banda Aceh, Andri dan Baldi. Untung punya teman-teman dekat yang tinggal di Banda Aceh. Enaknya punya teman dari daerah lain itu kalau pas lagi ke daerahnya bisa minta jemput, numpang tidur, diantar jalan-jalan, dan masih banyak lagi :D

sate matang

Sate Matang (acehforum.or.id)

Ternyata dari Bandara ke pusat kota Banda Aceh cukup jauh, sekitar setengah jam berkendara. Tujuan pertama setibanya di Banda Aceh adalah rumah calon penganting perempuan, karena malam itu adalah acara persiapan terakhir dan acara pertemuan kedua keluarga. Tapi sebelumnya kami mampir ke daerah simpang lima dekat Kodam Iskandar Muda untuk makan malam. Makan malam pertama saya di Banda Aceh, Sate Matang, sate daging sapi berbumbu kacang yang dihidangkan dengan kuah sup. Nama yang agak unik bagi saya yang baru datang dari Jakarta.

Ternyata warung (kedai) makan di Banda Aceh kursinya pendek-pendek dan ada diluar kedai, kalau duduk rasanya seperti jongkok. Beda dengan warung di Jakarta yang kursi baksonya tinggi-tingi dan ada didalam warung. Banyak kedai terutama kedai kopi pinggir jalan sudah ada hotspot dan tv flat dengan ukuran yang paling kecil 21 inch. Lebih canggih dari kedai di Jakarta.

mas-kawin-khas-acehSelesai makan langsung menuju acara temu keluarga di rumah calon pengantin perempuan di Lamjame Peukan Bada, yang ternyata sudah dimulai. Selama perjalanan dari bandara ke Ulee-lheue tak banyak yang bisa saya lihat karena sudah gelap dan tak banyak aktifitas orang-orang di malam hari. Yang paling terlihat jelas adalah saat melewati masjid Baiturrahman yang terlihat putih gemerlap karena pendaran lampu tembak.

Sabtu paginya acara akad nikah dilangsungkan. Lokasinya di Masjid legendaris kebanggaan rakyat Aceh, Masjid Baiturrahman. Menurut Andri, banyak sekali masyarakat Aceh yang ingin sekali melangsungkan akad nikahnya di Masjid Baiturrahman, tapi kebanyakan tidak bisa karena penuhnya jadwal sehingga harus jauh-jauh hari pesan waktu yang kosong.

Saat masuk Masjid yang pernah menjadi saksi serta tempat berlindung masyarakat Banda Aceh ketika terjadi bencana gempa dan tsunami tahun 2004 suasananya begitu sejuk dan damai, terdengar kicauan burung-burung dipagi hari. Arsitektur masjid ini begitu detail, ornamen ukiran hijau toska pada dinding depan, kaligrafi berlapis emas yang ada di depan mimbar, tiang-tiang putih peyangga kubah, serta lengkungan-lengkungan tiap sudut masjid semakin memberikan kesan unik pada bangunan ini.

bagian-dalam-masjid-baiturrahman-banda-aceh

Jika dilihat dari sisi luar akan semakin tampak khasnya bangunan ini dengan 5 Kubah hitamnya. Sementara menara Masjid yang disebut menara modal terpisah dengan bangunan utama. Menara ini pernah miring saat terjadi gempa tahun 2004. Di sisi sebelah kanan sebelum masuk masjid ada pohon Geulempang tempat dimana salah satu perwira Belanda Mayor Jenderal Kohler tewas saat pertempuran dengan rakyat Aceh tahun 1873. Pohon ini terus dijaga agar orang-orang dapat mengenal dan belajar dari peristiwa sejarah. Diluar luar pagarnya, masih di sisi kanan masjid, ada Pasar Atjeh.

masjid-baiturrahman-banda-aceh

Budi, Nanda, dan Saya

Yang pasti Masjid ini menjadi kebanggaan masyarakat Aceh karena sejarahnya juga karena keunikan bangunan serta fungsinya yang sakral sebagai tempat ibadah.

Sejarah Baiturrahman dulu hingga kini

3 Comments »

  1. gunsanadi said

    mantab to :)

  2. Sebagai tambahan info, kenapa dinamakan sate matang adalah karena daerah asal makanan tersebut adalah daerah Matang, Aceh Utara.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: