Ini kali kedua saya membuat paspor. Buat lagi bukan karena habis halaman, tapi karena habis masa berlaku. Itupun capnya hanya dari 2 negara, Indonesia dan Filipina. Dulu waktu membuat paspor yang pertama saya tinggal datang ke kantor imigrasi, duduk, diajak ketemu pejabat kantor imigrasi, ngobrol sebentar, kemudian nunggu antrian untuk foto dan ambil sidik jari. Selesai dalam 1 hari, karena ada yang bantu mengurus. Untuk paspor yang kedua ini saya coba untuk mengurus sendiri. Mau merasakan pengalamannya dan tentu untuk menghemat pengeluaran.
Hari pertama datang ke kantor imigrasi sudah agak siang, sekitar jam 9. Ternyata jam segitu nomor antrian sudah habis. Lalu tanya petugas imigrasi, saya sudah daftar online, sudah upload berkas dan segala macemnya, kemudian saya tunjukkan hasil print nomor berkas yang sudah diupload. Eh, petugasnya bilang “disini prosedurnya masih sama seperti yang dulu mas, ngantri, pake berkas asli”. Duh, capek deh! udah ada sistem online yang memudahkan, tapi masih aja pakai sistem manual. Padahal saya baca di internet kalau kantor imigrasi Jakarta Selatan sistemnya sudah online. Tangerang..oh..Tangerang. Daripada nggak ada hasil akhirnya cuma beli formulir, map berlogo kantor imigrasi kelas 1 Tangerang, dan sampul paspor (optional). Read the rest of this entry »


