Setiap Hari Raya Idul Fitri pasti nggak afdhol rasanya kalau nggak ada makanan yang satu ini, “Ketupat”. Ya, Kenapa Idul Fitri atau Lebaran bagi orang Indonesia selalu identik dengan ketupat?
Mungkin makna yang melekat pada ketupatlah yang membuat penganan berbahan dasar beras dan janur ini menjadi hidangan wajib saat Lebaran. Apa saja makna ketupat hingga setiap Lebaran selalu tersaji makanan ini?
1. Ketupat terbuat dari beras yang di bungkus janur
Beras ternyata merupakan simbol dari nafsu dunia, sedangkan janur merupakan kependekan dari “jatining nur” atau bisa diartikan hati nurani. Jadi ketupat itu simbol dari nafsu dunia yang bisa ditutupi oleh hati nurani. Pesannya kurang lebih setiap manusia itu punya hawa nafsu, tetapi nafsu itu bisa dikendalikan atau dikekang oleh hati nurani.
Bentuk persegi ketupat juga diartikan masyarakat Jawa sebagai perwujudan kiblat papat limo pancer. Ada yang memaknai kiblat papat limo pancer ini sebagai keseimbangan alam: 4 arah mata angin utama, yaitu timur, selatan, barat, dan utara. Akan tetapi semua arah ini bertumpu pada satu pusat (kiblat). Bila salah satunya hilang, keseimbangan alam akan hilang. Begitu pula hendaknya manusia, dalam kehidupannya, ke arah manapun dia pergi, hendaknya jangan pernah melupakan pancer (tujuan): Tuhan yang Maha Esa.
Kiblat papat limo pancer ini dapat juga diartikan sebagai 4 macam nafsu manusia dalam tradisi jawa: amarah, aluamah, supiah, dan mutmainah.
Amarah adalah nafsu emosional
Aluamah adalah nafsu untuk memuaskan rasa lapar
Supiah adalah nafsu untuk memiliki sesuatu yang indah atau bagus
Mutmainah adalah nafsu untuk memaksa diri
Keempat nafsu ini adalah empat hal yang kita taklukkan selama berpuasa, jadi dengan memakan Ketupat, disimbolkan bahwa kita sudah mampu melawan dan menaklukkan hal ini.
2. Ketupat dalam bahasa Jawa disebut “Kupat”
Kupat merupakan kependekan dari “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan. Itulah mengapa setiap Hari Raya Idul Fitri selalu ada tradisi saling memaafkan baik dengan keluarga, sanak saudara maupun tetangga.
3. Ketupat atau Kupat juga dapat diartikan “Laku Papat” atau empat tindakan.
Idul Fitri atau yang biasa disebut Lebaran erat kaitannya dengan “Laku Papat” ini. Keempat tindakan itu adalah Lebaran, Luberan, Leburan, Laburan.
Lebaran, berasal dari kata “Lebar” atau selesai.
Itulah mengapa Idul Fitri atau 1 Syawal biasa disebut Lebaran yang dimaksudkan telah selesai menjalani ibadah puasa Ramadhan. Istilah Lebaran hanya dikenal di Indonesia dan negara selain Indonesia tidak mengenal istilah Lebaran ini.
Luberan, berasal dari kata “Luber” artinya meluap atau melimpah.
Kata ini memberikan pesan untuk berbagi dengan sesama terutama dengan orang yang kurang beruntung, yakni sedekah secara ikhlas, seperti lubernya air dari tempatnya. Hal ini juga dapat kita jumpai pada bulan Ramadhan yakni pemberian zakat fitrah, infaq dah sedekah.
Leburan, berarti melebur atau menghilangkan.
Seiring dengan pengertian “ngaku lepat“, yakni mengakui kesalahan dan saling memohon maaf. Dalam masyarakat Jawa, permohonan maaf ini biasanya dilakukan dengan tradisi sungkeman, yakni permohonan maaf dari orang yang lebih muda kepada yang lebih tua atau dari anak kepada orang tuanya. Kalimat yang biasanya diucapkan adalah “Mugi segedo lebur ing dinten meniko” maksudnya semua kesalahan dapat dilepas dan dimaafkan pada hari tersebut.
Laburan, dari kata “Labur” atau (kapur) bahan untuk memutihkan dinding.
Kebiasaan masyarakat Jawa sebelum Lebaran adalah melabur atau memutihkan dindingĀ rumah agar terlihat bersih pada saat Lebaran. Hal ini juga memberikan pesan bahwa agar senantiasa menjaga kebersihan lahir dan batin. Jadi setelah melaksanakan Leburan (saling memaafkan) dipesankan untuk selalu menjaga sikap dan tindakan yang baik, sehingga mencerminkan budi pekerti yang baik pula.
Ketupat saat lebaran sangat nikmat jika disandingkan dengan opor ayam. Hidangan daging ayam yang dimasak dengan kuah santan ini sangat cocok jika disantap dengan ketupat. Seperti halnya ketupat yang berarti “ngaku lepat“, opor ayam yang dibuat dari santan juga punya filosofinya tersendiri. Santan atau santen bagi orang jawa diartikan sebagai “pangapunten” atau memaafkan. Jadi kurang lebih makna dari ketupat dan opor adalah, jika mengakui kesalahan maka maafkanlah.
Inilah mengapa pada saat Idul Fitri ada tradisi saling memaafkan. Walaupun banyak orang bilang bahwa tak perlu menunggu Lebaran untuk meminta maaf, nyatanya banyak sekali kesalahan yang belum kita mintakanĀ maaf maupun kita maafkan sebelum datangnya hari yang fitri tersebut.
Hantaran “Kupat Santen” sebagai perlambang permintaan maaf sudah seharusnya dibalas dengan melakukan hal yang sama. Artinya, selain meminta maaf, kita juga harus bersedia memberi maaf.

“Kupat kaliyan santen
Sedhoyo ngaku lepat nyuwun pangapunten”
Nah, begitulah filosofi ketupat bagi orang Jawa. Itulah mengapa setiap Idul Fitri selalu ada ketupat. Dan sekarang ketupat bukan lagi hanya milik masyarakat tertentu saja, tapi seluruh rakyat Indonesia sudah sangat terbiasa dengan adanya ketupat saat Lebaran. Sungguh betapa tingginya makna sebuah ketupat dan betapa memasyarakatnya penganan ini hingga bisa mempersatukan masyarakat dengan latar belakang yang berbeda.
sumber: patomi.wordpress.com, www.trulyjogja.com, www.kapanlagi.com





patomi said
senang bisa berbagi…=)
—————————
some map said
kejawen banget ya… akulturasi budayanya ok.. salam kenal mas
—————————————————————–
Rhanie said
Oo gitu toh to nilai2 di balik ketupat…Bagus ya..
Thanks ya to tuk infonya
————————————————–
gunsanadi said
emang opor maknya darto emang enak…..
*lost focus*
——————————————-
deni said
bang … gmn yah … rasa ketupatnya …?
—————————————–
vini said
to
mau interupsi to
LUBER itu artinya bukan meluap
tapi
LUBER itu artinya Langsung Umum Bebas dan Rahasia to
hehehehehe
*salah pokus*
———————————————————–
gunsanadi said
@deni:
wnak banget den….. apalagi dicampur dengan krupuk pangsit handmade maknya darto…… mantab banget deh…..
udah, pesan segera ke darto deh…… harga bersaing
*tapi serius tuh krupuk enak banget, pesen n cobain deh*
———————————————————————————————–
alabs said
Walah melabur to bang
emang begitu ya filosof nya :-/ gak yangka wekkk
kirain karena dindingnya emang udah pudar warnanya atau karena dindingnya kotor kale
hehehe
jus mampir >>> hayo tebak rasanya apa wekkk
———————————————————————————————–
cutfarathamrin said
oia, ketupat di sana kan pake beras nasi tu, tp klo di aceh ketupat’a bikin’a pake beras ketan gitu.. pake santan juga pas ngerebus’a, trus pake biji halba. makan pake rendang pas malam lebaran… mmmmmm…. yummmy…. =P~
muanteb dah..
tp tetep.. apapun ketupat’a, pasti jadi maskot’a lebaran
———————————————————————————————-
boedyst said
to buatin opor + ketupat buat budi ya … pas idul adha .. kemaren nda dateng nih …
.. sekalian ma sate juga huhue 
———————————————————————————————
Ayu said
Hebat yah nenek moyang kita membungkus filosofi budaya dan keagamaan dengan makanan… Bangga deh jd orang Indonesia. Ketupat musti buru2 kita patenkan niih kalo nggak nanti direbut negara tetangga…
Salam kenal ya mas….
———————————————————————–
arjunaadverting said
ya wis ngikut aja lah…..!!!! yang penting ngak dibajak bangsa lain lagi..
hidup indonesia…!!!
vieqie ilhami said
yang penting enak lah…………………..
—————————————————————