Hari itu Jumat terakhir di bulan November 2010. Tiket sudah saya pesan beberapa bulan sebelum keberangkatan, supaya dapat harga lebih murah. Kali ini saya akan menghadiri undangan teman yang akan melangsungkan pernikahan di Banda Aceh. Pengantin laki-laki dan pengantin perempuan ini dua-duanya teman kuliah saya. Pengantin perempuan asal Aceh sementara pengantin laki-laki dari Jakarta. Berangkat dari Jakarta dengan 2 orang teman lagi, Budi dan Nanda. Sekali mendayung, dua, tiga pulau terlampaui. Sambil menghadiri undangan, sekalian jalan-jalan. Read the rest of this entry »
Mau Buat Paspor? Antri !
Ini kali kedua saya membuat paspor. Buat lagi bukan karena habis halaman, tapi karena habis masa berlaku. Itupun capnya hanya dari 2 negara, Indonesia dan Filipina. Dulu waktu membuat paspor yang pertama saya tinggal datang ke kantor imigrasi, duduk, diajak ketemu pejabat kantor imigrasi, ngobrol sebentar, kemudian nunggu antrian untuk foto dan ambil sidik jari. Selesai dalam 1 hari, karena ada yang bantu mengurus. Untuk paspor yang kedua ini saya coba untuk mengurus sendiri. Mau merasakan pengalamannya dan tentu untuk menghemat pengeluaran.
Hari pertama datang ke kantor imigrasi sudah agak siang, sekitar jam 9. Ternyata jam segitu nomor antrian sudah habis. Lalu tanya petugas imigrasi, saya sudah daftar online, sudah upload berkas dan segala macemnya, kemudian saya tunjukkan hasil print nomor berkas yang sudah diupload. Eh, petugasnya bilang “disini prosedurnya masih sama seperti yang dulu mas, ngantri, pake berkas asli”. Duh, capek deh! udah ada sistem online yang memudahkan, tapi masih aja pakai sistem manual. Padahal saya baca di internet kalau kantor imigrasi Jakarta Selatan sistemnya sudah online. Tangerang..oh..Tangerang. Daripada nggak ada hasil akhirnya cuma beli formulir, map bercap kantor imigrasi kelas 1 Tangerang, dan sampul paspor (optional). Read the rest of this entry »
Jalan-Jalan Minim Budget
Jalan-jalan? Butuh banyak uang? nggak juga. Banyaknya tiket murah dan tiket promosi dari beberapa maskapai penerbangan sekarang ini memudahkan kita untuk pergi kemanapun. Baik itu di dalam negeri maupun ke luar negeri. Ditambah lagi dengan dihapuskannya pajak fiskal oleh pemerintah bagi orang yang akan bepergian ke luar negeri. Kalau dulu untuk keluar negeri saja seseorang harus membayar pajak fiskal di bandara seharga IDR 1.000.000, tentu hal ini membuat masyarakat Indonesia berpikir ulang untuk bepergian keluar negeri. Biaya semahal itu kan bisa dialokasikan untuk hal lain seperti penginapan, transportasi dan makan selama perjalanan. Terlebih buat para budget traveler.
Walau dengan budget minim selama ini saya tetap bisa menikmati setiap perjalanan saya. Caranya adalah cari yang termurah dan terjangkau, misalnya cari penginapan yang paling murah namun tetap mengutamakan kebersihan atau bisa menumpang di tempat teman. Cari makan yang murah tapi tetap enak dan bergizi :p , gunakan angkutan umum yang terjangkau atau menumpang orang lain, dan banyak lagi tips jalan-jalan ala backpacker lainnya. Read the rest of this entry »
Bukit Kerang, Situs Peninggalan Prasejarah
Hari itu Selasa 28 Oktober 2010. Perjalanan hari keduaku di Pulau Bintan. Hari ini kami akan menuju ke Bukit Kerang. Visualisasiku ketika mendengar kata bukit kerang adalah bukit yang tinggi dan berbentuk seperti kerang. Nyatanya visualisasiku ini salah, bukit ini berupa tumpukan cangkang kerang yang sangat banyak dengan tinggi sekitar 12 meter dengan diameter dengan ukurang yang hampir sama.
Bukit kerang ini berada di desa Kawal Darat, Bintan, Kepulauan Riau. Lokasinya tepat berada tengah kebun kelapa yang dikelilingi perkebunan sawit milik PT. Tirta Madu. Tak banyak orang setempat tahu bahkan mengenal lokasi bukit kerang ini apalagi orang dari luar pulau Bintan. Ini disebabkan karena tidak adanya petunjuk jalan yang menunjukkan lokasi situs ini. Ditambah lagi situs ini jauh dari jalan utama dan untuk mencapai situs ini pun harus masuk ke perkebunan sawit yang jalannya masih tanah kadang tergenang air. Tampak di sekeliling situs prasejarah ini dipagari kawat berduri yang dibuat oleh Dinas Pariwisata daerah setempat dan diluarnya terdapat papan keterangan yang menjelaskan tentang Bukit Kerang ini. Read the rest of this entry »
Masjid Agung Natuna
Jika datang ke Natuna sempatkan untuk berkunjung ke masjid Agung Natuna. Masjid ini letaknya tak jauh dari pusat kota Ranai. Pemandangan Gunung Ranai menjadi latar belakang Masjid Agung Natuna ini. Lokasi masjid ini agak kedalam, sedikit jauh dari jalan utama menuju Ranai. Masjid ini terlihat megah sekali, apalagi saat dilihat dari dekat. Bukan cuma dilihat dari dekat, masjid ini bisa dilihat dari dalam pesawat yang akan mendarat di Landasan Udara Ranai.
Karena tidak ada angkutan umum di Ranai, untuk mengunjungi Masjid Agung Natuna kita bisa menyewa mobil atau motor yang banyak sekali disewakan oleh penduduk setempat. Tidak sulit untuk menuju masjid ini, dari pusat kota Ranai kita harus menuju ke arah utara kurang lebih 2 kilometer. Letaknya di kaki Gunung Ranai. Dari jalan utama kita harus masuk lagi kedalam kurang lebih 1 kilometer tapi dari jalan ini sudah tampak bangunan masjid yang berkubah hijau dengan menara-menara disekelilingnya. Read the rest of this entry »
Lingga si Bunda Tanah Melayu
Jika ke Pulau Lingga di Kepulauan Riau, tak lengkap rasanya jika tak menyempatkan diri untuk berkunjung ke Daik. Di kota kecil nan ramah ini kita bisa menilik sejarah perkembangan budaya melayu yang saat ini menyebar hampir ke sebagian besar wilayah Indonesia bagian barat hingga Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam.
Untuk sampai ke Daik ada beberapa alternatif transportasi. Jika melalui udara, kita dapat menggunakan penerbangan Riau Airlines dari Tanjung Pinang ke Dabo di Pulau Singkep, kemudian dilanjutkan dengan menggunakan kapal menuju Tanjung Buton di Daik. Tapi jika melalui laut, kita dapat menggunakan kapal motor MV Marine Hawk atau MV Arena dari Pelabuhan Sri Bintan Pura di Tanjung Pinang langsung ke Tanjung Buton di Daik. Untuk perjalanan laut sendiri memakan waktu kurang lebih 5 jam.
Tidur di Terminal, Stasiun, Food Court, atau Bandara?
Akomodasi menjadi salah satu bagian penting dalam sebuah perjalanan. Tapi untukku, akomodasi gampangnya bisa dibilang numpang tidur. Dalam setiap perjalanan aku tidak selalu mempedulikan kemewahan kamar hotel atau pelayanan yang diberikan. Yang penting bisa untuk tidur melepas lelah selama seharian keliling-keliling kota yang dituju.
Akhir-akhir ini aku kerap berpikir “kalau tidak dapat penginapan ya mau tidak mau tidur di tempat umum”. Seperti restoran cepat saji, food court bahkan terminal atau stasiun yang buka 24 jam. Pada tripku ke KL akhir April 2011 ini aku melakukannya. Karena penerbanganku yang tiba di LCCT Kuala Lumpur hampir tengah malam, daripada menginap di hotel hanya untuk menunggu pagi yang tinggal beberapa jam, lebih baik aku menunggu pagi di food court bandara. Awalnya agak bingung mencari tempat untuk sekedar duduk bersandar, tapi setelah keluar dari pintu kedatangan kemudian mencari-cari tempat yang pas untuk duduk, ternyata di ruang tunggu keberangkatan sudah banyak orang yang nyenyak menggelar selimutnya di sudut-sudut ruangan. Bahkan beberapa bule sudah tidur nyenyak dengan selimutnya di sudut-sudut check-in counter bandara ini. Ternyata aku tak sendiri. Read the rest of this entry »
Menguji Adrenalin di Universal Studio
Mari menjelajah Universal! Ini kali keduanya aku ‘mampir’ di Singapura, 2006 lalu untuk pertama kalinya ‘mampir’ di negeri Merlion ini. Benar-benar hanya mampir untuk transit di Changi Airport sebelum akhirnya lanjut ke Ninoy Aquino di Manila. Kali ini (28/04/11), aku berangkat dari Kuala Lumpur pukul 22.30 dengan kereta api Senandung Sutera, sampai di stasiun Tanjung Pagar Singapura pukul 8 pagi. Berbekal beberapa pertanyaan pada beberapa orang di halte bis Tanjung Pagar, perjalanan kami lanjutkan ke Chinatown dengan bis nomor 80. Ya, aku tidak sendiri, tapi dengan 2 orang teman. Tujuan hari pertama ini adalah Chinatown ini untuk check-in hostel di Backpackers Inn. Agak sedikit tersasar memang, namun masih tidak jauh dari Backpackers Inn yang berada di Mosque Street. Dipintu hostel yang bangunannya terkesan seperti ruko berlantai 3 dengan arsitektur bergaya China ini, terlihat beberapa baris tulisan yang menginformasikan kamar dan tempat tidur yang masih tersedia.
Namun setelah bertemu dengan Nica, entah si pemilik hostel atau hanya pegawai, kami urung mengambil private room yang hanya tersisa 1 kamar dikarenakan masih jam 10 pagi dan kami belum bisa check-in, sementara jam check-in adalah jam 1 siang. Sehingga kami belum bisa menggunakan kamar untuk sekedar membersihkan diri.
Bersama 2 orang teman lainnya, kuputuskan untuk sarapan dulu di Mc.D yang telah kami lewati sebelum ke hostel. Hampir semua restoran fast food baik di Malaysia maupun Singapura, menu pagi, siang, dan sore berbeda. Pagi dan malam tak ada nasi, yang ada hanya roti, bubur kentang, dan telur mata sapi. Tak ada ayam, yang ada hanya nugget, ham, dan telur dadar. Karena tak ada pilihan lain, terpaksalah kupilih menu yang ada. Beef burger dengan telur dadar berlapis double cheese dan segelas teh panas, bukan teh hangat! Semuanya SGD 6,4 harga paling murah. Rasanya biaya hidup di Singapura 3 kali lipat mahal dari biaya hidup di Jakarta. Read the rest of this entry »
Chinatown dan Bugis
Ke Singapura rasanya tak boleh melewatkan kawasan bersejarah yang satu ini, Chinatown atau Pecinan kalau di Indonesia. Tak sulit untuk menuju Chinatown dari stasiun Tanjong Pagar, sekali naik bis kota nomor 80 dengan ongkos SGD 1 atau jika dari Bandara Changi bisa naik MRT East West Line turun di Outram Park kemudian lanjut dengan MRT North East Line ke Chinatown.
Chinatown ini dulunya adalah salah satu lokasi tempat tinggal para buruh kuli yang dipekerjakan untuk membangun Singapura. Para buruh kuli ini didatangkan dari China bagian selatan dengan menggunakan kapal yang penuh sesak, sesampainya di Singapura para buruh kuli ini kemudian di lelang untuk dijual kepada penawar dengan harga tertinggi. Sementara buruh yang tidak diminati akan tinggal di lingkungan-lingkungan untuk khusus buruh kuli. Mereka berbagi alas tidur dari kayu dan berdesak-desakan. Kekurangan air bersih, penyakit, kekerasan, dan kecanduan opium menjadi hal yang lumrah disini. Pagoda Street atau yang sekarang lebih dikenal dengan kawasan Chinatown ini adalah salah satu dari 12 lingkungan tempat tinggal para buruh kuli kala itu. Saat ini kawasan Chinatown ini ditetapkan menjadi salah satu lokasi warisan bersejarah di Singapura.
Bersenandung Sutera ke Singapura
“Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui” sepenggal pepatah yang sering kita dengar disekolah dulu. Menerapkan pepatah tersebut, sekali melakukan perjalanan dua tiga negara disinggahi. Perjalanan kali ini memang berawal dari Kuala Lumpur di Malaysia, namun tak menghalangi niatku untuk menuju Singapura, negara kepulauan kecil di ujung semenanjung Melayu.
Statsiun KL Sentral yang sudah terintegrasi dengan berbagai macam transportasi darat seperti Taxi, Bis, Kereta Listrik Komuter, Monorail, MRT, dan Kereta Api Antar Negara sangat memudahkan bagi penggunanya terlebih untukku. Tak perlu lagi berjalan jauh untuk berganti moda transportasi yang menghubungkan berbagai kota di Malaysia dan beberapa negara tetangga seperti Thailand dan Singapura. Kecuali stasiun monorail yang masih berada tak jauh diluar gedung utama KL Sentral dan masih dalam tahap pembangunan untuk diintegrasikan dengan stasiun KL Sentral, semua sudah terhubung di satu gedung KL Sentral. KL Sentral sendiri buatku lebih terkesan seperti pusat perbelanjaan dengan berbagai macam kios didalamnya daripada sebuah stasiun terintegrasi. Nyaman untuk sekedar menunggu kedatangan kereta karena bersih, tak ada pedagang asongan, pengamen ataupun asap rokok. Read the rest of this entry »







